Dalam Neraka Vietnam-bagian 678-679-680
Dalam Neraka Vietnam-bagian-678

“Hei
orang asing, itu kali terakhir aku menolongmu. Setelah itu kau harus
menolong dirimu sendiri. Sudah dua hari kau kupegangi agar tak mampus
lemas…” ujar tentara itu menyumpah.
Si Bungsu memperkuat tegaknya di dalam air. Kemudian
dia mengangguk, lalu jambakan pada rambutnya dilepaskan. Tubuhnya masih
doyong dan jatuh berlutut, kepalanya segera tenggelam. Dia cepat
menyesuaikan diri. Sesaat kepalanya muncul, dia kembali terbatuk. Kedua
tentara Amerika yang sudah hampir dua hari memegangi ketiga orang itu
hanya menatapnya dengan diam. Si Bungsu dengan susah payah melangkah di
dalam air kuning kental yang hampir setinggi leher dan
lumpurnya ternyata tebal sekali di dasar
kurungan tersebut. Kemudian dia bersandar ke dinding tanah.
Cahaya matahari siang yang menerobos masuk dari celah dedaunan
kering, yang selintas kelihatan hanya seperti timbunan sampah yang
menutup bahagian atas kurungan itu, membantu si Bungsu mengenali ‘rumah
baru-‘nya tersebut. Sambil bersandar dia mengurut beberapa urat di
tengkuknya. Kemudian di perutnya. Dalam waktu tak begitu lama, semua
rasa sakit akibat hantaman popor itu lenyap. Kemudian dia menoleh pada
mayat yang mengapung tertelungkup hanya semeter dari tempatnya tegak.
Dia segera tahu, mayat itu adalah mayat tentara yang kena
malaria tropikana itu.
Kemudian matanya menatap kepada dua tentara yang masih terkulai yang
dipegang oleh dua temannya. Dia tahu, kedua tentara itu adalah yang
sama-sama diangkut dengannya dengan truk. Dia juga tahu, kedua mereka
pingsan akibat pukulan popor senapan di belakang kepalanya, seperti yang
dia terima sebelum jatuh ke lobang ini. Si Bungsu melangkah ke arah
mereka. Di bawah tatapan kedua tentara itu dia mengurut perlahan urat di
belakang tengkuk dan pada bahagian tertentu dekat pusar kedua tentara
yang masih pingsan tersebut.
Tak lama kemudian kedua tentara yang pingsan itu terdengar mengerang.
Kemudian nafas mereka mulai normal. Kemudian membuka mata. Kemudian
menggeleng-gelengkan kepala. Kedua tentara yang tadi memegang mereka
menyumpah dan menatap heran pada si Bungsu.
“Pantat kurap! He.. orang asing, apakah kamu punya ilmu sihir makanya
bisa membuat orang sembuh secepat itu?” ujar yang rambutnya hampir
botak.
“Terimakasih, kawan. Kalian sudah menyelamatkan nyawa saya dan
orang-orang ini dengan memegang kami agar tak mati terbenam selama…..
berapa lama tadi kau katakan?” ujar si Bungsu.
“Pantat kur….”
Sumpah serapahnya terhenti karena disikut temannya yang seorang lagi.
“Hei…. Hei..! Kenapa kau main sikut. Karena kau letnan dan aku sersan,
he? Tak kau lihat keanehan yang dia lakukan? Hanya dengan menjilat
tengkuk dan pusat si kerempeng yang berdua ini, dia bisa membuat mereka
bangkit dari liang kubur. Tak kau lihat keanehan itu…?”
Si rambut hampir botak itu benar-benar mencerocos seenak udelnya.
Mengatakan si Bungsu menjilat tengkuk dan pusar kedua orang itu. Padahal
yang dilakukan si Bungsu adalah mengurut dengan jari-jarinya. Kemudian
dia mengatakan kedua orang yang baru ditolong si Bungsu itu sebagai dua
orang yang ‘kurus kerempeng’. Seolah-olah tubuhnya gemuk benar, padahal
hanya tinggal tulang belulang. Si letnan, seorang Negro dengan bibir
tebal dan rambut benar-benar kribo saking lamanya tak bertemu tukang
pangkas, yang menyikut si sersan hampir botak itu, tersenyum mendengar
cerocos kawannya.
“Hai, kawan Anda bisa bahasa Inggris?” tanya letnan Negro tersebut dengan sikap sopan.
Si Bungsu mengangguk. Kemudian menatap jerajak bambu yang di atasnya
ditimbuni sampah, jauh di atas kepala mereka. Saat itu seekor
cecak
jatuh dari sela-sela timbunan dedaunan tersebut. Belum sampai sedetik
tubuh cecak kecil itu terhempas ke air, si Bungsu dibuat terkejut oleh
apa yang dilakukan kedua tentara tersebut. Mereka hampir serentak,
melompat ke arah jatuhnya cecak tadi dengan tangan terulur dan jari-jari
terkembang siap menangkap cecak, itu. Ternyata si hampir botak lebih
cepat. Si Bungsu dapat melihat dengan jelas tangan kanan sersan itu
menyambar cecak yang baru jatuh itu.
Namun si hampir botak tak segera berdiri. Dia justru langsung
menyelam. Si letnan menarik nafas, kemudian melangkah lagi ke dinding.
Lalu matanya menatap ke atas, ke arah bambu yang menjadi atap lobang
seperti mengharapkan sesuatu jatuh lagi dari atas sana. Saat itulah si
hampir botak timbul lagi dari menyelam. Si Bungsu merasa mual tatkala
melihat ujung ekor cecak itu masih tersembul sedikit di antara bibir si
hampir botak. Ekor cecak itu masih bergerak-gerak. Namun dengan cepat
lidah si hampir botak terjulur keluar, mulutnya ternganga sedikit, dan
ekor cecak itu lenyap!
Kemudian kelihatan si hampir botak menelan dengan luar biasa
nikmatnya. Si letnan, dan dua tentara yang tadi datang bersama si Bungsu
hanya melihat dengan diam. Malah selera mereka seperti ikut terangsang
melihat si hampir botak itu menikmati cecak sebesar telunjuk tersebut.
Si Bungsu menahan rasa mualnya dengan menatap dinding kurungan yang
seluruhnya terdiri dari tanah napal.
Nampaknya lumpur yang ada di bawah kaki mereka sengaja dimasukkan,
begitu juga airnya. Sebab air yang kedalamannya hampir mencapai leher
mereka itu, kuning dan bau sekali.
Hal itu tentu berbeda kalau air ini berasal dari dalam tanah. Saat itu
si sersan yang tadi bertanya apakah si Bungsu bisa berbahasa Inggris
kembali bersuara.
Dalam Neraka Vietnam-bagian-679
“Saya tahu bangsa Amerika berasal dari berbagai suku
bangsa. Anda dari tentara reguler atau wajib militer?” tanya letnan
tersebut.Si Bungsu menatap letnan itu beberapa saat. Kemudian menatap
sersan yang hampir botak kepalanya itu. Lalu dua tentara lainnya, yang
sama-sama diangkut bersama dia dengan truk. Keempat orang itu, semuanya
berpakaian loreng yang sudah kehilangan bentuk, lusuh dan robek hampir
di seluruh tempat, menatapnya dengan diam.
“Tidak, saya bukan dari ketentaraan Amerika…” jawab si Bungsu perlahan.
Si Letnan dan ketiga tentara lainnya terdiam sembari menatap si Bungsu beberapa saat.
“Well, kalau begitu Anda tentu bertugas sebagai mata-mata bayaran?”
tanya si letnan, namun ucapannya segera disambar si kepala hampir botak.
“Sudah kukatakan tadi, dia tukang sihir.…”
Namun si letnan dan kedua tentara yang lainnya tak ambil peduli dengan ucapan si sersan. Begitu juga si Bungsu.
“Saya orang Indonesia. Saya tidak berkerja untuk dinas rahasia mana pun,
termasuk yang tadi Anda sebutkan…” ujar si Bungsu perlahan.
“Pantat kudis! Kalau begitu dia ini mata-mata Vietnam, yang sengaja diselusupkan.…”
Ucapannya terhenti lagi oleh tepukan tangan si letnan di tengkuknya.
“Pantat! Kau tak percaya dia mata-mata Vietnam? Dia sudah mengatakan
tidak bekerja untuk Amerika, lalu untuk siapa lagi dia bekerja, kalau
bukan untuk Vietnam? Dia mengatakan orang In…. apa itu tadi? Mana ada
negara yang dia sebutkan tadi…” ujar si sersan, yang seumur hidup memang
tidak pernah mendengar ada negara bernama Indonesia.
Si Bungsu kembali memperhatikan lobang besar tempat mereka dikurung,
kemudian menatap ke atas. Dari semua yang dia perhatikan, dia yakin
siapapun yang disekap di lobang ini, termasuk dirinya, takkan bisa
melarikan diri tanpa bantuan orang yang berada di atas sana. Dia yakin,
kalaupun mereka bisa mencapai bambu yang menutup lobang ini, misalnya
dengan cara yang satu berdiri di bahu yang lain, agaknya tiga atau empat
orang sambung bersambung, pintu bambu itu takkan bisa mereka buka. Dari
bawah kelihatan tiga kayu sebesar manusia gemuk, dibelintangkan di
“atap” bambu.
“Di mana Indonesia itu? Salah satu negara di Afrika atau Asia
Tengah?” ujar si letnan yang seumur hidup juga belum pernah mendengar
nama Indonesia.
“Antara Singapura dengan Australia…” ujar si Bungsu.
“Oo… sebelah mana
Bali…?” tanya si letnan.
Si Bungsu balas menatap si letnan.
“Anda pernah ke Bali…?”
“Tidak, tapi negara itu kabarnya indah sekali. Sebuah sorga di
laut Pacific, kata orang…” ujar letnan tersebut.
Si Bungsu menarik nafas. Bagi dia, yang hampir setahun berada di
Amerika, menjelajahi belasan kota di sana, antara lain New York, Dallas,
Los Angeles, Washington DC dan San Fransisco, ucapan si letnan bukanlah
hal yang aneh. Sebagian besar orang yang dia kenal di Amerika memang
tak pernah mengenal nama Indonesia. Sebagian kecil di antaranya hanya
mengenal nama Bali. Bahkan beberapa di antara yang dia kenal justru
pernah datang ke Bali. Tapi sebahagian dari mereka yang pernah ke Bali
juga tak tahu bahwa Bali itu hanyalah sebuah pulau yang amat kecil di
negara bernama Indonesia.
Dia tak tahu kenapa kejanggalan seperti itu, tak dikenalnya nama Indonesia oleh kebanyakan orang Amerika, bisa terjadi.
“Bali itu adalah bahagian dari Indonesia…” ujar si Bungsu perlahan
sambil jari-jari kaki kanannya menggaruk betis kaki kirinya di dalam
air, yang terasa gatal sekali.
Matanya kembali menatap loteng bambu di atas sana.
“Ingin mencoba lari…?” ujar si Letnan.
Si Bungsu menatapnya.
“Kami sudah lebih dari setahun di sini, kau lihat dinding itu?” ujar si
letnan sambil menunjuk ke dinding yang berada di sebelah kanannya.
Si Bungsu menoleh ke arah yang ditunjuk letnan tersebut. Dinding itu,
setinggi yang bisa dijangkau tangan, penuh goresan pendek-pendek.
Nampaknya tiap sembilan goresan pendek ditutup dengan sebuah garis
menyilang. Goresan menyilang di dinding itu menjadikan tiap satu ikat
goresan tersebut genap sepuluh. Ada puluhan ikat
goresan memenuhi dua
dinding tanah napal tersebut.
“Satu goresan adalah satu hari. Kami berhenti pada goresan ke lima
ratus. Semula pada setiap goresan kami memiliki harapan untuk bebas.
Baik dibebaskan teman, dibebaskan karena perang usai dan kesepakatan
penukaran tawanan perang diperoleh antara Amerika dan Vietkong, atau
bebas karena melarikan diri. Namun, barangkali sudah beberapa bulan yang
lalu kami berhenti menggores. Tak ada gunanya membuat goresan lagi.
Kami berhenti berharap. Dahulu jumlah kami tujuh orang. Lihat dinding
itu, ada tujuh nama di sana. Yang lima yang diberi tanda sudah mati di
lobang ini. Yang terakhir mati adalah Sersan Matley, barangkali dua
bulan yang lalu…” tutur si letnan perlahan.
Keadaan menjadi sunyi saat si Bungsu menatap ke arah tujuh nama di
dinding tersebut. Menatap lima tanda di ujung lima nama. Dari dua nama
yang tertoreh di sana, yang belum diberi tanda, si Bungsu menjadi tahu
nama kedua orang yang masih hidup ini. Sebab di akhir tiap nama mereka
dicantum kan pangkat yang bersangkutan. Si letnan ternyata bernama PL
Cowie. Dia tak tahu apa kepanjangan PL tersebut. Kalau Cowie pasti nama
klan atau nama ayah. Sementara si sersan yang rambutnya hampir habis,
sehingga kepalanya hampir botak, yang kalau bicara suka menyumpah dan
memaki, bernama Tim Smith.
“Well, kalian yang berdua, apa pangkat kalian dan dari kesatuan mana
kalian?” ujar si letnan kepada dua tentara Amerika yang datang bersama
si Bungsu.
“Yes, Sir. Sersan Mike Clark dari
Divisi Enam Kompi Senjata Bantuan, pasukan infrantri…” ujar yang seorang.
“Kopral Jock Graham dari
Divisi Enam Kompi Senjata Bantuan, bahagian radio…” ujar yang seorang lagi.
“Dan Anda, Tuan?” ujar Letnan Cowie pada si Bungsu.
“Saya orang sipil, nama saya Bungsu….”
Semua mata menatap ke arahnya.
“Maaf, saya sangat yakin Anda bukan mata-mata untuk siapa pun. Namun,
sebohong apapun cerita yang akan Anda sampaikan, harap beritahu kami,
kenapa Anda sampai ikut ditawan dan disekap bersama kami…” ujar Cowie.
“Anda dari pasukan
SEAL?” tanya si Bungsu kepada letnan jangkung itu.
Letnan itu menatap ke arahnya. Begitu juga yang lain.
“Kenapa Anda menebak seperti itu?”
Dalam Neraka Vietnam-bagian-680

“Hanya firasat. Saya pernah bertemu beberapa anggota SEAL, dan Anda punya ciri seperti mereka…” ujar
si Bungsu perlahan.
Keempat tentara Amerika itu menatap ke arahnya.
“Siapa anggota SEAL yang Anda kenal?” tanya si letnan.
Si Bungsu ganti menatap letnan itu dengan tajam. Dia haqqul yakin,
Cowie adalah anggota SEAL yang terkenal itu. Lalu berkata perlahan.
“MacMahon….”
“Kolonel MacMahon?
Si Bungsu mengangguk, letnan tersebut tertegun. Begitu juga yang lain.
“Anda mengenal Kolonel MacMahon…?”
“Ya….”
“Di mana?”
“Di tempat dia disekap bersama tentara Amerika yang lain, di sebuah goa
di bukit batu di daerah selatan. Tapi sekarang mereka sudah bebas.…”
“Kolonel MacMahon bebas?”
“Ya….!”
“Pertukaran tawanan perang?”
Si Bungsu menggeleng.
“Melarikan diri?”
Si Bungsu mengangguk.
“Anda ada di sana saat dia melarikan diri…?”
Si Bungsu menarik nafas. Menatap sesaat kepada ke empat tentara
Amerika yang tubuh mereka sudah mirip jailangkung karena kurusnya itu.
“Ya… saya di sana.…” jawab si Bungsu perlahan.
Ke empat tawanan kurus seperti jailangkung itu tertegun.
“Anda juga ikut tertawan dengannya?” ujar Letnan Cowie dengan penuh keingintahuan.
“Tidak…”
Untuk sesaat letnan Negro berbibir tebal dan berambut kribo karena
tak pernah bertemu tukang pangkas itu menatap si Bungsu. Kemudian dia
berkata
perlahan.
“Jika demikian. Anda pastilah salah seorang dari orang-orang yang membebaskan Kolonel MacMahon…” ujar Cowie perlahan.
Jari-jari kaki kiri si Bungsu ganti menggaruk betis kanannya di dalam
air yang menjadi gatal pula. Kemudian tangannya menggaruk paha, lalu
dada. Lalu
punggung. Sekujur tubuhnya terasa gatal. Si rambut hampir botak tertawa
terkekeh melihat si Bungsu menggaruk kiri kanan, atas bawah.
“Anda salah seorang yang membebaskan Kolonel MacMahon?” kembali Letnan Cowie bertanya.
Si Bungsu akhirnya mengangguk perlahan. Kendati ada sedikit kesalahan
dalam perkiraan tersebut. Dia bukan ‘salah seorang’ dari yang
membebaskan
MacMahon. Dia adalah satu-satunya orang yang membebaskan perwira
tersebut bersama belasan yang lain. Tapi tak ada gunanya menjelaskan hal
itu dalam
kurungan dengan air berlendir seperti yang mereka huni sekarang.
“Lalu Anda tak berhasil melarikan diri dan tertangkap?” ujar Cowie.
Si Bungsu kembali mengangguk.
“Fuck! Orang ini ternyata bisu. Dia hanya bisa mengangguk dan
menggeleng…” Sersan Tim Smith, tentara yang rambutnya hampir botak itu,
memaki sambil
terkekeh.
Letnan Cowie menarik nafas panjang, tetapi matanya menatap tajam pada si Bungsu.
“Maaf, tadi Anda mengatakan bukan tentara mana pun. Saya yakin itu. Saya
juga yakin Anda bukan mata-mata pihak mana pun. Namun kenapa Anda
berada
bersama pasukan yang membebaskan MacMahon? Anda penunjuk jalan bagi pasukan pembebas itu…?” ujar Cowie.
“Tidak, saya datang ke sana karena harus membebaskan seseorang.
Kebetulan di tempat dia ditawan ada MacMahon dan tawanan lainnya.
Membebaskan
seorang tawanan atau tujuh belas, saya rasa sama saja.…”
“Maksudnya, Anda membebaskan ketujuh belas tawanan itu sendiri?” ujar Cowie.
Tidak hanya Letnan Cowie yang sangat ingin tahu jawaban orang
Indonesia ini, tapi juga ketiga tawanan lainnya. Mereka menatap si
Bungsu nanap-nanap.
“Tidak, kami berempat….”
“Tiga lainnya adalah pasukan Amerika?”
“Tidak, tiga lainnya adalah orang Vietnam….”
“Tentara semua?”
“Hanya satu. Itu pun bekas tentara. Yang dua lagi penduduk sipil. Yang
satu seorang lelaki tua, sekitar 55 tahun. Yang seorang lagi anaknya,
seorang gadis
berusia sekitar 15 tahun….”
Terdengar umpat, sumpah dan gerutuan dari si hampir botak dan dua tentara lainnya.
“Siapa yang Anda cari untuk dibebaskan itu?” ujar Cowie.
“Roxy.…”
“Oh Tuhan, Roxy Roger maksud Anda?”
“Ya….”
“Anda dibayar ayahnya untuk mencari dan membebaskan cewek itu?”
“Rencananya ya….”