Rabu, 06 November 2013

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 697-698

Dalam Neraka Vietnam -bagian 697-698


Dalam Neraka Vietnam-bagian-697
formasi bersafMaka kini, mereka benar-benar hanya menyerahkan nasib dan nyawa mereka pada ketajaman pendengaran masing-masing.
Hutan itu, dalam radius hanya sekitar lima ratus meter persegi, dipenuhi tak kurang dari 40 manusia. Mereka adalah tiga puluhan tentara Vietnam yang terbagi dalam dua regu, serta empat pelarian yang kurus kerempeng dan kelaparan. Hanya karena malam dan belantara itu amat lebat saja mereka tak saling melihat antara satu dengan yang lain.
Setelah cukup lama menanti, namun tak ada tanda-tanda gerakan apapun dari pelarian tersebut, kedua komandan regu tentara Vietnam itu sepakat mengambil insiatif untuk menggeledah saja belantara itu. Mereka berani mengambil inisiatif karena mereka lebih banyak dan kondisi tubuh mereka tentu saja lebih baik di banding kondisi tubuh orang yang mereka buru.
Kedua regu tentara itu segera membentuk formasi bersaf. Dengan formasi seperti itu mereka mulai begerak maju. Jarak seorang tentara dengan yang lain hanya sekitar lima depa. Maju selangkah demi selangkah, sambil tiap sebentar berhenti, mendengarkan kalau-kalau ada gerakan lain di sekitarnya. Tentu saja tak seorang pun yang mengetahui, bahwa di antara ke empat pelarian yang sedang mereka buru itu adalah ‘pangeran belantara’! Seorang yang benar-benar hafal bentuk dan struktur rimba raya. Seorang yang bisa berlari cepat di belantara lebat, kendati dalam suasana gelap gulita.
Seorang yang bisa membedakan apakah sebuah daun bergoyang karena angin atau karena sebab yang lain. Seorang yang bisa membedakan bau kayu atau daun yang sudah disentuh manusia dengan bau daun kayu yang belum disentuh apa pun. Tak seorang pun di antara tentara Vietnam itu yang tahu, bahwa ada orang dengan kualifikasi seperti itu di antara ke empat pelarian yang sedang mereka buru itu. Kalau saja mereka tahu, bahwa setiap saat, setiap detik, orang itu tiba-tiba bisa berada sejengkal di depan hidung mereka, tanpa diketahui dari mana datangnya, mereka takkan gegabah merancah hutan tersebut.
Namun bagi beberapa tentara Vietnam yang bernasib malang, waktu sudah terlambat. Seorang prajurit di bahagian kanan, ketika merunduk-runduk melewati sebuah dahan besar, tiba-tiba seutas tali menjerat lehernya. Dia ingin berteriak, tapi teriakannya tersangkut di tenggorokan yang dijerat semakin ketat oleh tali kasar itu. Dia berusaha menarik pelatuk bedilnya, namun jarinya tak bisa dia gerakkan. Tubuhnya telah dibuat lumpuh!

Dalam Neraka Vietnam-bagian-698
Ada yang mendengar suara bergedebuk agak lemah, disusul suara bergedebuk lebih keras. Kemudian sepi. Tak seorang pun yang menyangka, suara gedebuk pertama adalah suara jatuhnya senapan dari tangan kawan mereka yang lehernya kena jerat itu. Gedebuk kedua adalah suara jatuhnya tubuh si tentara ke tanah beralaskan dedaunan kering. Si Bungsu lalu turun, mengambil bedil yang jatuh tersebut. Kemudian berlutut di tanah. Lalu menembak ke arah kiri. Usai beberapa tembakan dia melompat cepat beberapa meter ke belakang. Dan memutar ujung bedil dan menembak ke arah kanan.
Saat dia menembak kekiri terdengar pekikan-pekikan. Begitu juga saat dia menembak ke kanan. Hanya sesaat setelah itu, semburan api dan rentetan peluru terdengar dari kiri dan kanan ke tempat dia memuntahkan peluru.
Kemudian sepi!
Tembakan balasan dari belasan tentara Vietnam itu menerpa tempat kosong. Sebab begitu bedilnya usai memuntahkan peluru, disusul pekikan tentara yang diterkam timah panas itu, si Bungsu segera bergerak secepat yang bisa dia lakukan. Menghindar dari lokasi tersebut. Cowie dan Tim Smith mendengar rentetan tembakan itu dengan tegang.
Namun hanya beberapa saat setelah tembakan balasan terdengar, dalam suasana sepi yang mencekam, Cowie dan Tim Smith tiba-tiba dibuat sangat terkejut oleh suara yang hanya berjarak sedepa dari tempat mereka. Mereka sudah siap menarik pelatuk bedil bersamaan, tatkala tiba-tiba mereka mendengar suara si Bungsu berbisik.
“Jangan tembak, ini saya dan Jock….”
Mengetahui yang datang adalah si Bungsu, Cowie menarik nafas, Smith bercarut-carut. Dalam gelap yang kental itu mereka mendengar erangan Jock Graham.
“Kenapa dia?” tanya Cowie.
“Demam… tapi sudah agak baikan….”
“Anda yang menembak tadi?”
“Ya….”
“Saya kira ada tiga atau empat orang mereka yang terbunuh….”
“Mereka hanya saya lumpuhkan. Jumlah mereka sangat banyak. Kita harus memecah rombongan…” ujar si Bungsu.
“Maksudmu?”
“Anda bisa mencari jalan dalam gelap ini untuk menghindar sejauh mungkin. Letnah Cowie?”
“Jika tidak dikepung, barangkali bisa….”
“Baik. Saya akan mengalihkan perhatian mereka ke arah lain. Kalian larilah sejauh yang kalian bisa hingga pagi tiba. Saya akan menyusul….”
“Sebaiknya saya tinggal berdua dengan Anda, sehingga yang meloloskan diri pertama adalah Smith dengan membawa Jock. Atau yang tinggal Smith, saya membawa Jock…” bisik Cowie.
“Akan sulit bila hanya seorang yang memapah Jock. Memapah sambil mencari jalan dalam gelap bukan pekerjaan yang mudah….”
“Tetapi, sendirian menghadapi puluhan Vietnam itu bukan juga pekerjaan yang mudah…” bisik Cowie.
“Cowie, hutan adalah rumahku. Aku hafal setiap lekuk likunya. Aku mustahil bisa bertempur frontal dengan mereka. Aku hanya akan memancing perhatian mereka ke tempat lain, sehingga kalian bisa melarikan diri sejauh mungkin…” bisik si Bungsu.
Akhirnya Cowie memahami penjelasan dan rencana si Bungsu.
“Untuk mengalihkan perhatian dan memancing mereka ke arah lain, saya memerlukan peluru lebih banyak…” ujar si Bungsu.
Cowie lalu membuka magazin senjata Jock Graham. Kemudian dia membuka magazin senjata yang ada padanya. Mengeluarkan separoh isinya. Begitu juga peluru di magazin senjatanya sendiri. Kemudian diisikannya peluru tersebut ke magazin senjata Jock Graham. Ketika magazin itu penuh, masih ada beberapa peluru lagi.
“Kemarikan magazin senjatamu. Masih ada beberapa peluru. Ini magazin yang sudah penuh…” ujar Cowie sambil menyerahkan magazin yang sudah berisi penuh itu kepada si Bungsu.
Si Bungsu membuka magazin senjata di tangannya. Kemudian menyerahkan pada Cowie, sembari menerima dan memasangkan magazin yang diserahkan Cowie ke senjata nya. Cowie memasukkan sisa peluru di tanganya ke magazin yang diserahkan si Bungsu. Kemudian memberikan magazin yang juga akhirnya menjadi penuh oleh peluru tersebut kepada orang Indonesia itu.
“Saya akan meninggalkan kalian. Saya mengetahui tempat mereka berada. Mereka membentuk formasi lurus dalam jarak emat sampai lima depa. Saya akan menembaki mereka. Bergeraklah saat kalian mendengar tembakan balasan dari mereka…” ujar si Bungsu.
Ketika dia akan bergerak meninggalkan tempat itu, terdengar Jock Graham berkata.
“Kawan, jika tidak engkau tolong, saya sudah terbunuh di luar sana, atau dilemparkan kembali ke lobang jahanam itu. Terimakasih juga pada obatmu….”
“Jaga dirimu, Jock…” ujar si Bungsu.
Ketika dia akan pergi, Letnan PL Cowie memegang tangannya.
“Kawan, kami tidak tahu siapa engkau sebenarnya. Namun kami berhutang nyawa padamu. Kendati pun pelarian ini gagal dan kami mati semua, namun keluarga kami, dan juga Amerika, berhutang padamu. Saya tak tahu apakah kita masih akan bertemu atau tidak. Karenanya saya perlu menyampaikan, terimakasih atas segala yang kau lakukan untuk kami, kawan….”

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 695-696

Dalam Neraka Vietnam -bagian 695-696


Dalam Neraka Vietnam-bagian-695
urat kayu besar“Tetaplah bertahan, Jock. Saya akan buatkan obat untukmu…” ujar si Bungsu. Matanya coba meneliti beberapa dedaunan dan lumut yang bisa dibuat ramuan obat.
Namun baru dua dari empat jenis daun yang harus diperoleh, pendengarannya yang amat tajam mendengar bunyi langkah tak jauh di belakang mereka. Sementara Smith dan Cowie sudah terpisah dari mereka oleh palunan hutan lebat tersebut. Cowie yang berjalan di bahagian depan sekali berhenti dan menoleh ke belakang. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres. Dia tidak melihat Jock Graham dan si Bungsu.
“Jock…!!” serunya.
Tak ada sahutan apapun. Sepi sekali. Hanya suara binatang hutan terdengar di mana-mana.
“Bungsu….!!” serunya.
Tetap tak ada sahutan apapun. Sepi dan amat mencekam. Smith yang nafasnya sudah sesak bersandar ke pohon besar. Matanya menatap jalan yang tadi mereka tempuh. Tak ada jalan sebenarnya, karena yang mereka tempuh saat ini adalah belantara lebat yang belum pernah dijejak manusia. Perang Vietnam-Amerika pun, yang berlangsung amat ganas dan bertahun-tahun, tak sampai menjamah daerah ini. Smith maupun Cowie hanya melihat hutan belantara yang maha lebat dan angker. Apa yang terjadi dengan Jock Graham dan si Bungsu?
Mengapa mereka tak menyahuti panggilan Cowie? Saat si Bungsu sedang memetik beberapa lembar daun untuk obat Jock Graham, kemudian mendengar suara langkah tak jauh di belakangnya, dia bergerak cepat ke tempat Jock Graham yang masih tegak bersandar seperti memeluk pohon besar itu. Dia menotok bahagian belakang leher tentara Amerika tersebut. Totokan yang amat terlatih itu membuat Jock Graham lumpuh. Si Bungsu memanggul tubuh yang sudah tak bertenaga itu. Kemudian dengan cepat membawanya pergi dari sana.
Dia membawa tubuh kurus kerempeng itu ke bawah sebuah pohon yang besarnya sekitar tiga pelukan lelaki dewasa. Letaknya sekitar dua puluh depa dari tempat Jock Graham tegak pertama. Urat kayu itu berbentuk pipih dan besar-besar. Urat-uratnya yang muncul di atas tanah menyebabkan bahagian bawah pohon besar itu memiliki sekat-sekat seperti kamar. Tiap urat pipih yang membentuk sekat itu bisa setinggi tegak lelaki dewasa. Dia dudukkan tentara yang tak sadar diri itu di antara sekat tersebut, persis saat salah satu regu Vietnam sampai ke tempat mereka tadi.
Belasan tentara Vietnam tersebut melihat bekas Jock Graham tegak. Namun setelah itu jejaknya hilang. Tapi saat itu pula mereka mendengar suara orang memanggil sampai dua kali. Suara yang didengar tentara Vietnam itu adalah suara Cowie yang memanggil Jock Graham dan si Bungsu. Pimpinan regu memberi isyarat kepada anak buahnya dengan meletakkan telunjuk ke bibir. Kemudia dia membagi formasi anak buahnya untuk menyergap orang yang hanya ke dengaran suaranya itu. Dia bagi anak buahnya dalam dua sayap, kiri dan kanan.
Mereka memang tak bisa melihat siapapun, karena belantara dimana kini mereka berada demikian lebat. Jarak pandang hanya bisa menembus antara tiga sampai empat meter. Selepas itu pandangan terhambat oleh pohon besar dan belukar yang rapat sekali. Pemburuan itu semakin dipersulit oleh sore yang sudah turun. Hutan yang sudah gelap itu dengan cepat menjadi semakin gelap. Mereka bergerak perlahan, namun cepat, ke arah sumber suara memanggil tadi. Sementara itu, usai mendudukkan Jock Graham si Bungsu menekan urat di belakang leher tentara tersebut. Jock Graham mengeluh saat pertama sadar. Namun mulutnya dibekap oleh si Bungsu. Dia berbisik di telinga tentara itu.
“Dengar Jock! Belasan tentara Vietnam berada hanya beberapa langkah dari tempat kita. Engkau akan cukup kuat untuk mengangkat bedil dan menembakkannya kalau keadaan terdesak. Saya akan membuatkan obat untukmu. Tapi sebelum itu kita harus bisa lolos diri dari buruan Vietnam itu….”
Usai memberikan penjelasan si Bungsu menyerahkan kembali bedil rampasan dari tentara Vietnam yang tadi nyaris lepas dari tangan Jock. Kemudia dia menotok dan mengurut dengan cepat beberapa urat di pusat, kening dan punggung tentara itu. Dengan perasaan takjub Jock Graham merasakan kondisi tubuhnya agak membaik.
“Terimakasih, kawan…” ujarnya perlahan.
“Jangan bergerak. Tetap duduk seperti ini, pasang telinga dan matamu. Saya akan melihat apa yang masih bisa dilakukan. Maaf, saya belum sempat meramu obat untukmu. Tapi kunyah saja daun ini, telan airnya. Agak pahit bercampur asin rasanya, tapi itu obat. Usahakan agar tak tertelan ampas daunnya…” ujar si Bungsu dalam kalimat cepat, sembari menyumpalkan tiga lembar daun selebar telapak tangan ke mulut Jock Graham, kemudian dia menyelinap dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Jock Graham mengunyah daun yang disumbatkan lelaki dari Indonesia itu ke mulutnya. Daun itu kesat sekali. Seperti kertas ampelas. Rasanya memang agak asin. Kalau saja bukan lelaki dari Indonesia itu yang menyumbatkan daun sialan tersebut, sudah sejak tadi dia muntahkan. Tapi dia yakin, orang Indonesia itu bukan sembarangan lelaki. Dia tidak hanya sekedar pandai meramu obat, juga tangguh luar biasa. Buktinya adalah kemampuan lelaki itu melumpuhkan empat tentara Vietnam yang menggiringnya. Dengan fikiran demikian dia meneruskan mengunyah daun rasa kentut tersebut. Kemudian menelan airnya yang juga rasa kentut.
Air getah daun yang dia telan itu sebagaimana tadi dijelaskan si Bungsu, memang terasa agak asin dan agak pahit. Dia ingin meludah, namun tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang tentara Vietnam! Tentara itu sebenarnya tak tahu bahwa di balik ceruk akar pohon yang besar-besar itu bersembunyi orang yang mereka buru.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-696
Dia datang ke tempat itu untuk memeriksa belukar lebat tak jauh dari pohon besar tersebut. Namun ketika dia melewati sebuah sisi akar kayu besar itu, tiba-tiba saja dia melihat seorang tawanan yang mereka buru ada di sana. Duduk bersandar ke pohon di antara dua urat kayu pipih lebar dan tinggi, sehingga tak kelihatan jika tidak berada di alur yang sama dengan celah urat kayu tersebut.
Orang itu dia pergoki sedang mengunyah-ngunyah. Namun pertemuan yang mendadak dan saling menatap itu membuat dia kaget dan tertegun. Lupa pada bedil di tangannya. Begitu juga halnya dengan Jock Graham. Kendati kedua mereka sama-sama memegang bedil yang sama-sama teracung ke arah lawannya masing-masing, namun belum satu letusan pun yang terdengar. Telunjuk masing-masing tetap dipelatuk bedil.
Jock Graham masih terus mengunyah daun kayu di mulutnya. Mengunyah perlahan, namun tak lagi mampu menelan getah daun yang sudah terkumpul dalam mulutnya. Tapi kemudian, terjadi juga apa yang harus terjadi. Jock Graham ternyata lebih duluan menyadari situasi berbahaya itu. Telunjuknya bergerak.
“Klik….”Senjatanya macet!
Jock Graham menarik lagi pelatuk tersebut. tak ada bunyi sama sekali. Bedil buatan Cina yang dikenal dengan nama Chung itu memang banyak mengundang celaka tentara yang memakainya. Suara ‘klik’ dari bedil pelarian tersebut membuat si Vietnam sadar. Telunjuknya segera bekerja. Namun tetap saja tak ada sebuah letusan pun yang terdengar. Yang terjadi adalah mendeliknya mata si Vietnam tersebut. Sesaat kemudian tubuhnya terjungkal ke depan. Jatuh tertelungkup sehasta di depan Jock Graham, yang sedetik lalu sudah pasrah menunggu maut.
Sebelum hilang rasa kejutnya, tiba-tiba si Bungsu muncul. Tangannya memberi isyarat agar Jock Graham jangan bersuara. Saat itu Jock Graham baru bisa kembali menelan getah daun kayu yang dia kunyah. Kemudian daun yang sudah menjadi ampas itu dia ludahkan. Dia melihat ampas daun kayu itu berwarna merah. Dia terkejut, apakah dia muntah darah? Dia meludah, ludahnya juga merah. Dia menatap ke arah si Bungsu.
Si Bungsu menggeleng perlahan, sebagai isyarat agar dia tak khawatir. Kemudian mata si Bungsu kembali menatap tajam ke belantara gelap di depannya. Suasana benar-benar sepi. Sore sudah melakukan serah terima tugasnya menerangi bumi dengan senja. Gelap yang makin kental perlahan merayap menerkam rimba tersebut. si Bungsu memang berharap agar malam cepat turun. Semakin gelap hari semakin terlindung mereka dari pengejaran. Hal yang sama juga diinginkan Letnan PL Cowie yang bersembunyi dalam sebuah palunan belukar lebat.
Tadi ketika usai dia memanggil Jock Graham dan si Bungsu, tiba-tiba telinganya yang memang sudah terlatih dalam perang Vietnam yang bertahun-tahun, ternyata masih berfungsi dengan baik. Dia mendengar suara belukar disibakkan dan daun kayu diinjak kaki manusia. Dia segera memberi isyarat pada Smith untuk menghindar dengan cepat dari tempat itu. Dan latihan bagaimana bergerak di belantara dengan tak banyak meninggalkan jejak juga masih mereka kuasai dengan baik. Itu sebab pasukan Vietnam yang mahir melacak jejak dalam hutan sulit menemukan ke mana larinya buruan mereka.
Apalagi cahaya gelap yang sudah turun makin mempersulit mereka meneliti bekas injakan kaki di dedaunan. Senter bukannya tak bermanfaat dalam kondisi seperti itu. Namun mempergunakan senter sama halnya dengan memberi tahu kepada musuh di mana awak berada. Dan itu artinya adalah bunuh diri.

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 692-693-694

Dalam Neraka Vietnam -bagian 692-693-694


Dalam Neraka Vietnam-bagiann-692
kartu cekiNamun, jika sial lagi datang ada-ada saja kesalahan yang dibuat. Saat berjudi itu, mereka menyandarkan bedilnya ke dinding pondok. Tengah asyik memperhatikan kartu ceki di tangan, tiba-tiba saja ada bayangan orang tegak di depan tangga pondok yang tingginya hanya semeter dari tanah. Mereka menoleh, dan tiba-tiba muka mereka menjadi pucat. Mereka melihat di sana tegak tawanan yang tadi baru ditarik ke atas dari lobang penyekapan. Kini lelaki itu tegak menodongkan bedil kepada mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan perlawanan, bedil mereka tersandar di dinding.
Bedil itu memang bisa diraih, tapi telunjuk lelaki yang menodong itu siaga di pelatuk. Buat sesaat mereka menatap si Bungsu dengan melongo.
“Turun dan buka penutup lobang itu…” perintah si Bungsu.
Untuk sesaat mereka masih berdiam diri. Namun si Bungsu segera menukar bedil dengan tali plastik besar itu. Sebelum kedua pengawal di pondok tersebut faham apa yang akan diperbuat si Bungsu, tangan si Bungsu bergerak. Di tangannya, tali plastik itu berubah menjadi senjata yang tangguh. Entah dengan cara bagaimana, kedua orang itu terpekik tatkala daun telinga mereka robek dan berdarah kena sabet cambuk tali nilon tersebut. Salah seorang yang bertubuh kurus, memanfaatkan waktu yang sesaat itu untuk menyambar bedil di kanannya.
Namun dia kalah cepat. Ujung cambut di tangan si Bungsu menghajar lengannya. Lengan baju kain mereka yang berwarna hitam itu robek, dan daging lengannya juga ikut robek. Dia terpekik.
“Turun dan buka tutup lobang itu cepat…!” perintah si Bungsu.
Kini kedua orang Vietnam tersebut benar-benar tak berani untuk tidak mematuhi. Karena di tangan kiri orang yang memerintah mereka teracung bedil dengan telunjuk di pelatuk. Mereka bergerak turun dari pondok. Kemudian memindahkan kayu-kayu besar yang berfungsi sebagai penghimpit ‘pintu’ yang menutup lobang. Usai itu mereka segera membuka salah satu bahagian yang berfungsi sebagai ‘jendela’ tempat memasukkan atau mengeluarkan tawanan. Ketika pintu lobang itu terbuka, dengan tangan kanan menodongkan bedil, si Bungsu melemparkan tali nilon ke dalam lobang tersebut.
Cowie, Smith dan Jock Graham yang semula merasa heran kenapa tutup lobang tahanan mereka dibuka, pada ternganga tatkala melihat ke atas. Di tepi lobang terlihat si Bungsu tengah menodongkan bedil.
“Tarik mereka satu demi satu ke atas…” perintah si Bungsu.
Kedua Vietnam itu kelihatan berusaha mencari celah untuk melakukan perlawanan. Namun melihat telunjuk kanan si Bungsu bergerak menarik pelatuk, mereka cepat-cepat memegang ujung tali. Lalu menanti. Si Bungsu memberi isyarat pada Letnan PL Cowie. Letnan Negro itu segera menyambar ujung tali. Lalu tubuhnya ditarik ke atas. Dengan cepat dia menerima salah sebuah senjata yang diberikan si Bungsu. Senjata yang baru saja dirampas dari keempat tentara yang tadi menggiringnya. Kini Cowie mengawasi kedua tentara Vietnam itu menarik Tim Smith.
Smith juga menerima sepucuk senjata. Kemudian dia bergerak ke bahagian kanan, berlutut di dekat pohon kayu mengawasi jalan yang menuju ke arah kampung. Cowie memberi isyarat kepada Jock Graham, yang segera menyambar tali tersebut. Dia segera ditarik ke atas. Di atas Graham juga menerima sebuah bedil dari si Bungsu.
“Masukkan mereka ke lobang….” ujar si Bungsu kepada Cowie.
Cowie dan Jock Graham memerintahkan kedua Vietnam itu membuka sepatu dan celana mereka. Kemudian dengan hanya berkolor dan berbaju, hampir secara bersamaan keduanya kena hantaman pada tengkuk oleh popor bedil di tangan Cowie dan Smith. Entah mati entah hidup, yang jelas keduanya tercebur dengan suara agak keras ke dalam air kuning berlumpur itu. Baik Cowie maupun Smith memang tidak menembak kedua milisi itu, karena suara tembakan akan mengundang tentara yang ada di perkampungan.
“Kita berangkat…” ujar si Bungsu.
“Kemana?” tanya Cowie sambil memakai sepatu dan pakaian salah seorang tentara Vietnam itu.
Si Bungsu menunjuk ke arah belantara lebat di bahagian utara lobang tempat mereka disekap. Bagi Cowie, Smith dan Graham memang ke sana pilihan terbaik untuk lari. Mereka tak mungkin masuk ke kampung. Hutan adalah tempat yang aman, meski untuk sementara. Bagi si Bungsu, hutan lebat itu menjadi pilihan karena hutan merupakan ‘rumah’nya. Cowie mengambil semua peluru dan dua bedil yang pemiliknya sudah terjun ke lobang penyekapan. Tanpa banyak membuang waktu, mereka segera menuju ke arah belantara yang terlihat tak begitu jauh.
Yang tak mendapat jatah pakaian adalah Tim Smith. Dia hanya mendapat sepatu. Karena sepatu itu kebesaran di kaki Jock Graham. Namun keempat mereka kini memiliki bedil dan peluru. Kendati jumlah peluru yang mereka miliki tak mencukupi untuk bertempur lama, namun bagi seorang pelarian memiliki bedil dan peluru merupakan sesuatu yang amat luar biasa harganya.


Dalam Neraka Vietnam-bagian-693
Mereka baru saja bergerak sekitar seratus langkah, ketika tiba-tiba mereka mendengar suara ledakan dari tempat yang baru saja mereka tinggalkan. Mereka terhenti, namun hanya sesaat. Kesadaran bahwa ledakan itu mengundang kedatangan tentara Vietnam menyebabkan mereka segera bergerak cepat.
“Ledakan apa itu?” tanya Graham sambil melompati sebuah kayu besar yang melintang.
“Granat…” ujar Cowie, sambil melompati pula kayu tersebut.
Si Bungsu menyumpah dalam hatinya. Dia menyesal tidak menyuruh tentara Vietnam itu membuka bajunya sebelum dimasukkan ke lobang penyekapan mengganti kan mereka. Dia teringat, kantong baju salah seorang milisi Vietnam yang mereka ceburkan itu kelihatan menggem bung. Dia yakin, granat yang ledakannya barusan mereka dengar berasal dari dari dalam kantong baju yang mengge lembung itu. Dia tak curiga karena granat biasanya dicantelkan diikat pinggang. Tapi kenapa granat itu baru diledakkan setelah keempat pelarian itu bergerak cukup jauh?
Milisi Vietnam yang kantongnya menggelembung yang dilihat si Bungsu, tak lama setelah diceburkan ke lobang segera mengeluarkan granat dari kantong bajunya begitu keempat pelarian tersebut lenyap dari pandangan mereka di atas lobang penyekapan itu. Dia sudah akan mencabut pin granat itu, namun temannya yang seorang lagi segera mencegah.
“Jangan sekarang…” ujarnya.
“Kau mau bunuh diri? Mereka belum jauh. Begitu granat ini meledak, mereka akan kembali dan menembak kita… ”ujarnya.
“Tapi, kita akan ditembak komandan kalau mereka sudah jauh dan berhasil meloloskan diri….”
“Belum tentu kita ditembak oleh bangsa sendiri. Sebab, empat tentara yang tadi menggiring mereka, adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas lolosnya tawanan itu. Di bawah pengawalan mereka, orang itu lolos…”
Yang memegang granat dapat memahami penjelasan temanya. Dia urungkan mencabut pin granat tersebut. Lalu mereka sama-sama menanti. Menanti dengan cemas, apa hukuman yang akan mereka terima, jika nanti mereka diadili. Setelah merasa keempat tawanan itu lari cukup jauh, granat tersebut lalu dilemparkan ke atas dan meledak. Suara ledakan tersebut lalu membuat tentara yang berada di kampung yang tak jauh dari penyekapan itu tersentak. Dalam waktu yang amat singkat lima belas tentara segera memburu ke tempat tersebut lewat tiga jalur yang berbeda.
Regu pertama menuju ke lobang penyekapan itu dengan memutar dari kiri. Regu ke dua melambung dari arah kanan. Regu ke tiga mendatangi tempat tersebut dari jalan setapak yang biasa dilewati. Regu ketigalah yang menemukan ke empat teman-teman mereka pada tergeletak di jalan, tak berapa jauh dari kampung. Ke empat mereka masih dalam keadaan pingsan. Malang melintang di jalan kecil di antara hutan bambu tersebut. Komandan regu segera mengirim salah seorang anggotanya kembali ke markas di kampung. Memberitahu apa yang mereka temukan.
Setelah itu, yang empat orang lagi segera melanjutkan perjalanan menuju ke lobang di mana selama ini mereka menyekap tawanan perang tersebut. Regu pertama yang melambung dari arah kanan, segera sampai ke bahagian belakang pondok pengawalan beberapa meter dari lobang penyekapan.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-694
Dari tempat mereka berada,sekitar sepuluh depa dari pondok,mereka melihat pondok pengawasan itu kosong.Regu yang melambung dari arah kiri juga segera tiba.Dari jarak belasan meter mereka melihat penutup lobang tempat penyekapan tawanan itu terbuka.
Baik regu yang di kanan maupun yang di kiri,segera mengirim tiga orang anggota masing-masing mendekati lobang penyekapan.Ketiga orang itu merayap dalam hutan bambu tersebut,hampir tanpa menimbulkan suara sedikitpun.Lalu akhirnya,mereka mendapatkan yang berada dalam lobang penyekapan itu adalah dua milisi yang seharusnya d pondok berjaga.Kedua milisi itu segera bisa di tarik naik.Sebab tali nilon yang biasa untuk menarik mayat tawanan yang mati,ternyata di bawa kabur oleh para tawanan tersebut.
Letnan yang bertanggung jawab atas tawanan itu segera memerintahkan anak buahnya melacak kearah larinya tawanan tersebut.Hanya di butuhkan beberapa saat,tiga orang yang di tugaskan melacak telah datang melapor.
“Mereka ke arah hutan,jejak masih jelas…”lapor salah seorang dari yang bertiga itu.
Si letnan menatap kearah hutan dan bukit yang di tunjuk oleh anak buahnya.
“Mereka memasuki Neraka yang lebih berbahaya…”ujarnya.
Namun sebelum ke empat pelarian itu memasuki’Neraka yang lebih berbahaya’sebagaimana di ucapkan sang komandan,yang pertama memasuki Neraka adalah ke empat orang Vietnam yang terkait dengan empat pelarian itu.Neraka yang mereka tempati adalah Neraka yang biasa di tempati oleh para tawanan tentara Amerika.Ke dua milisi yang berjudi ceki itu tetap tak boleh keluar dari lobang penyekapan itu,mereka di tambah dengan empat tentara yang menggiring si Bungsu sampai perkampungan.
Komandaqn yang bermarkas di desa itu berpangkat mayor.Saking berangnya,muka sang mayor sampai berubah-rubah seperti jadi-jadian.Sebentar merah padam,sebentar kemudian pucat,kemudian merah padam lagi.Ke empat tentara yang di lumpuhkan si Bungsu itu di jebloskan saat mereka masih pening-pening lalat.Mula-mula mereka dingkat teman-teman nya.Mereka menyangka akan di rawat di bangsal kesehatan sebagaimana jika ada tentara yang sakit.Namun harapan itu sangat jauh panggang dari pada api.Tubuh mereka di lempar kedalam lobang penyekapan.
Baru beberapa saat dalam lobang berair kuning kental itu,keenam tentara Vietnam itu muntah kayak.Bau yang amat menusuk,bau bekas mayat dan bau kotoran manusia,yang bercampur aduk jadi satu membuat perut mereka benar-benar mual dan tak mampu bernafas.Namun lobang itu sudah di perintahkan si mayor untuk di tutup.Setelah itu si mayor memerintahkan seluruh tentara dan milisi di desa itu untuk berkumpul di dekat lobang penyekapan itu.Ada sekitar tiga puluh tentara reguler,kemudian dua puluh milisi berkumpul,sepuluh di antaranya wanita.
Si Mayor membagi kekuatan setengah kompi itu dalam tiga kelompok.Dua bagian harus menyisir hutan,memburu tawanan dari dua arah,yang sebagian lagi hanya sekitar sepuluh orang,siaga di markas mereka di desa itu.
“Jangan kalian pulang jika tidak membawa empat orang itu.Saya tak peduli apakah yang kalian bawa pulang orangnya atau hanya kepalanya.Ingat itu,jangan pulang tanpa mereka..!!”hardik si mayor kepada kedua kelompok itu.
Sementara di dalam lobang,dua dari enam orang yang di ‘cemplungkan’karena membiarkan tawanan itu melarikan diri.Jatuh pingsan setelah isi perut mereka keluar semua.Namun si mayor tak peduli.Setelah dua kelompok itu berangkat.Dia memerintahkan empat orang untuk menjaga di pondok pengawalan itu.”Jangan ada yang berani memberi makan atau minum,dalam bentuk apapun tanpa perintah saya,jika kalian langgar,kalian saya tembak…”tukas si mayor dengan suara serak saking menahan berangnya.
Tapi ke empat orang yang melarikan diri itu,ternyata memang menghadapi tantangan yang tak kecil.Tantangan pertama yang harus mereka hadapi adalah kondisi fisik mereka sendiri.Yang pertama ambruk sejak mereka keluar dari lobang itu adalah kopral Jack Graham.Kopral ini sama-sama di pindahkan bersama si Bungsu dengan truk.Ternyata kondisinya sudah demikian buruk.Demam panas menyerang pula.Si Bungsu yang posisinya paling belakang,melihat kopral itu memeluk sebatang pohon besar dengan tubuh menggigil.
Bedil di tangan nya hampir jatuh,si Bungsu paham,kalau orang itu tak mungkin untuk terus berjalan.kalau saja dia punya waktu untuk mengumpulkan dedaunan untuk ramuan.Ingatan itu segera menyadarkan si Bungsu tentang apa yang harus dia lakukan.

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 690-691



Dalam Neraka Vietnam-bagian-690
gari“Hei, Negro…” ujar salah seorang di antara tentara yang tidak menodongkan bedil, yang bersenjata pistol di pinggang, ke arah Cowie dalam bahasa Inggris.
Cowie menatap dengan diam ke atas.
“Sambut ini…” ujarnya sambil memperlihatkan sebuah gari.
Sebelum habis ucapannya dia sudah melemparkan belenggu terbuka itu, yang disambut oleh Cowie.
“Pasangkan pada kedua tangan orang itu…” ujar tentara tersebut sambil menunjuk pada si Bungsu.
Cowie segera berjalan dalam air kental itu ke arah si Bungsu. Dia faham benar tak ada gunanya memperlambat melaksanakan perintah tentara Vietnam
tersebut, apalagi membantahnya. Cowie, dan siapapun tentara Amerika, yang pernah merasakan tertangkap oleh Vietnam tahu benar bahwa terhadap
tawanan tentara Amerika tentara maupun milisi Vietnam tak memiliki kata iba, kasihan atau bentuk timbang rasa apapun. Mereka dengan segala senang hati
akan menghamburkan peluru dengan sedikit alasan saja. Bahkan dengan alasan yang kadang-kadang tak masuk akal.
Itulah sebabnya ketika tentara Vietnam itu melempar kan gari ke arahnya, Cowie segera menyambutnya. Kemudian ketika diperintah untuk membelenggu si Bungsu, Cowie segera mendekati orang Indonesia itu, untuk melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya. Si Bungsu juga faham bahwa tentara Vietnam
tak suka dibantah. Maka ketika Cowie mendekatinya dengan belenggu di tangan, yang diperbuat si Bungsu adalah menjulurkan kedua tangannya ke arah Cowie.
Dia bisa memahami dan bersyukur bahwa Cowie memasangkan pula gari itu dengan baik.
Sebab, jika misalnya belenggu itu tidak terkunci dengan benar, maka kemungkinan yang terjadi setelah diperiksa di atas adalah si Bungsu langsung ditembak.
Atau yang ditembak justru Cowie. Bukannya hal yang mustahil pula bahwa yang ditembak bukan salah seorang di antara mereka, melainkan kedua mereka
sekaligus. Mereka berusaha untuk tidak saling memandang ketika memasang belenggu itu, agar tidak ditafsirkan sebagai memberi isyarat atau apapun yang
bisa diartikan sebagai usaha persiapan melarikan diri.
Usai belenggu dipasangkan, tali nilon sebesar empu jari kaki dilemparkan ke bawah. Tali tersebut adalah tali nilon yang biasanya dipergunakan untuk menarik
mayat dari lobang sekapan itu ke atas.
“Ikat kedua pergelangan tangannya yang dibelenggu itu…” ujar tentara Vietnam yang melemparkan belenggu ke pada Cowie.
Cowie kembali mengambil ujung tali nilon tersebut. Lalu membuat jeratan, sebagaimana beberapa hari yang lalu dia juga membuat jeratan di ujung tali yang
sama, untuk di kalungkan ke leher Sersan Mike Clark yang sudah mati. Jerat itu kemudian dia kalungkan ke tangan si Bungsu yang dibelenggu. Setelah itu tali plastik tersebut dia lilitkan di tengahnya. Ikatan seperti itu mencegah tangan si Bungsu tidak terluka atau terlalu sakit ketika tubuh si Bungsu ditarik ke atas.
“Tarik…!” ujar tentara Vietnam yang berpistol, begitu melihat Cowie selesai mengikat kedua pergelangan tangan si Bungsu.
Tiga orang tentara Vietnam segera menarik dengan kasar tali tersebut. Tarikan kuat dan tiba-tiba itu membuat tubuh si Bungsu terputar dan wajahnya
menghantam dinding lobang. Hal itu terjadi sebelum dia sempat mengantisipasi dengan menekankan kakinya ke dinding. Benturan diikuti tarikan yang
menyebabkan wajahnya tergesek dengan keras ke dinding, mengakibatkan hidung dan kening si Bungsu berdarah. Sesampai tubuhnya di atas dia segera
digelandang menuju ke perkampungan. Sementara dua tentara lainnya segera pula menutup lobang tempat menyekap para tawanan tersebut.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-691
Si Bungsu tiba-tiba merasa tubuhnya dijalari rasa hangat yang alangkah nikmatnya. Hal itu disebabkan cahaya matahari yang selama ini tak pernah
menyentuh tubuhnya, kini hal itu langsung dia rasakan. Dia terkejut tatkala sambil melangkah dia melihat ke arah kakinya. Kakinya pucat bukan main. Selain
pucat juga berkerut karena lama didisekap dalam lobang tersebut. Barangkali sudah lebih dua bulan. Selama itu pula tubuhnya terendam. Dia menjadi
semakin faham kenapa banyak tahanan yang mati perlahan dalam lobang sekapan itu.
Untunglah selama dalam penyekapan itu dia tetap menjaga kondisi dengan mengatur pernafasan, kemudian melakukan gerakan-gerakan seperti senam.
Sehingga kendati kaki, pinggang dan tangannya mengkerut karena air, namun reaksi dan gerak bahagian-bahagian tubuhnya tersebut tetap normal. Apalagi
kini tubuhnya mendapat cahaya panas matahari secara langsung. Keningnya berkerut tatkala terpandang pada kedua pergelangan tangannya yang digari.
Lobang gari itu ternyata terlalu besar bagi tangannya yang sudah mengecil.
Bahkan jikapun tangannya dia kepalkan, dia yakin kepalan tangannya itu tetap saja bisa lolos dari lobang gari tersebut. Rasa hiba terhadap dirinya, terhadap
tawanan yang masih disekap dalam lobang, berangsur-angsur berobah menjadi marah. Dengan sedikit menggoyang tangan, gari di tangannya itu meluncur
turun. Gari yang di tangan kanannya saat meluncur ke bawah dia tahan dengan telapak tangan. Digenggamnya erat-erat. Gari yang di tangan kiri terhenti di
punggung buku-buku jarinya yang dia kepalkan. Dia mempelajari situasi di mana dia kini berada.
Jalan yang mereka tempuh ternyata melintasi hutan bambu. Lalu dia mempelajari jumlah tentara Vietnam yang menggiringnya. Hanya ada empat orang. Dua
milisi yang tadi menodongkan bedil ke lobang saat dia akan ditarik, ternyata petugas yang menjaga di pondok dekat lobang penyekapan tersebut. Kini mereka
tetap tinggal di sana. Dua orang tentara, termasuk si komandan yang berpistol, berjalan di depannya. Dua orang lagi di belakang.
Namun hatinya mulai bimbang. Masih tetap cepatkah reaksi tangan dan kakinya? Masih sekuat dulukah pukulan dan tendangannya?
Dia mencoba mengepalkan tengannya kuat-kuat. Kepalan tangannya tetap terasa kuat dan kukuh. Urat-urat darahnya mengencang dan darahnya terasa
berjalan normal. Langkahnya menjadi lambat saat dia terbatuk keras. Dia berjalan lagi, dan tiba-tiba batuk keras dan panjang kembali menyergapnya.
Langkahnya terhenti. Dia sampai terbungkuk dengan tangan menahan dadanya dan terasa sakit akibat batuk tersebut. Dua tentara yang di belakang dengan
bedil tetap ditodongkan, terhenti pada jarak sedepa. Saat itulah gari yang sudah lepas dari pergelangannya dia hantamkan ke tentara terdekat.
Bersamaan dengan itu tangan kirinya menepis sekaligus merenggutkan ujung bedil tentara Vietnam tersebut. Belenggu berwarna putih itu menghantam
bahagian belakang telinga si tentara. Dia rubuh pingsan bersamaan dengan berpindah tangannya bedil yang dia todongkan ke tangan si Bungsu. Tentara yang
seorang lagi belum sempat mengetahui apapun, ketika dadanya dihantam popor bedil yang dihentakkan oleh si Bungsu dari posisi berlutut.
Tentara itu mengeluh, matanya mendelik. Lalu dia jatuh berlutut dan terlentang di jalan. Kejadian itu amat cepat, hanya dalam hitungan detik!
Saking cepatnya peristiwa itu terjadi menyebabkan dua tentara yang berjalan di depan, yang menoleh ke belakang karena mendengar ada keluhan, tak segera
bisa menyadari apa sesungguhnya yang sedang dan telah terjadi. Sesaat mereka hanya tertegun. Mereka tiba-tiba aja melihat tawanan yang mereka giring itu,
yang kini masih dalam posisi berlutut di kaki kirinya, sudah menodongkan ujung bedil kepada mereka.
Dalam gerakan yang amat cepat, orang itu sudah melakukan dua gebrakan yang langsung melumpuhkan dua teman mereka berada di belakang. Padahal
kedua teman mereka itu mengawal dengan telunjuk siaga di pelatuk bedil. Sungguh-sungguh tak pernah mereka bayangkan tawanan yang mereka giring ini
bisa bergerak secepat dan setangguh itu. Kini semuanya terlambat sudah.
“Taruh senjata kalian, di tanah. Letakkan perlahan. Saya sudah membunuh lebih dari seratus tentara, karenanya jangan bunuh diri dengan mencoba
melakukan tindakan bodoh…” ujar si Bungsu perlahan dalam bahasa Inggris.
Kedua tentara itu tak memiliki pilihan lain. Tatapan mata dan kata-kata yang keluar dari bibir tawanan di depan mereka menggambarkan sikap yang amat
profesional. Mereka menuruti perintah si Bungsu, meletakkan senjata di tanah. Dengan tangan kiri di pelatuk bedil, tangan kanan si Bungsu meraih belenggu
yang tergeletak di tanah. Kemudian melemparkannya dengan kuat dan cepat ke arah si komandan. Gari itu menetak kening si komandan, matanya juling.
Tanpa sempat mengeluh, tentara itu rubuh, pingsan! Yang seorang lagi ternganga dan menggigil.
Si Bungsu melangkah ke arahnya, kemudian tangannya bergerak. “Pletak!’ Si Bungsu mendaratkan ruas-ruas jari tengahnya lewat sebuah pukulan melingkar ke
belakang telinga tentara yang tegak seperti kehilangan semangat itu. Pukulan tersebut menotok urat darahnya dan membuat dia rubuh dalam keadaan
pingsan. Si Bungsu menyambar tali nilon sebesar empu jari kaki, yang tadi dipergunakan untuk menarik dirinya dari dalam sekapan.
Dia bergerak cepat, merampas bedil dan sebuah pistol milik ke empat tentara itu. Kemudian kembali ke lobang penyekapan.
Menjelang sampai ke tempat penyekapannya dia masuk ke hutan bambu. Dan mendekati pondok penjagaan dari sisi kanan. Kedua milisi Vietnam itu ternyata
sedang berjudi dengan kartu ceki. Dinding pondok kecil itu hanya dibuat sekitar tujuh puluh lima sentimeter. Dengan demikian, jikapun pengawal duduk, dia
masih bisa melihat langsung ke lobang penyekapan yang terletak sekitar empat meter dari pondok. Selain itu, dengan dinding yang hanya separoh tersebut,
mereka yang dipondok juga bisa mengawasi seluruh penjuru sekitar pondok itu.

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 688-689

Dalam Neraka Vietnam -bagian 688-689


Dalam Neraka Vietnam-bagian-688
cahaya sore
“Ayo kita cari lagi. Saya masih cukup banyak kantong seperti ini, yang sudah kita buang dan terbenam jauh di bawah lumpur…” bisik Cowie.
Ke tiga tentara Amerika itu kembali menyelam. Begitu juga si Bungsu. Yang pertama dia lakukan adalah menggulung kantong plastik itu sehingga menjadi gulungan kecil. Kemudian dia letakkan baik-baik di tepi dinding di dasar lobang. Ditimbunnya dengan dua kepal lumpur agar jangan mengapung ke permukaan. Lalu tangannya menggerayang lagi mengaduk-aduk lumpur. Beberapa kali mereka saling berbenturan kepala di dalam air kental tersebut, atau tangan mereka saling beradu saat mengaduk-aduk lumpur.
Ketika satu demi satu mereka muncul lagi dengan nafas tersengal-sengal, di tangan Cowie ada tiga kantong plastik. Smith mendapat enam, Graham dua buah dan si Bungsu lima. Mereka pada bersandar terlebih dahulu di dinding lobang. Mengatur pernafasan. Namun tak seorang pun yang mengangkat kantong plastik yang mereka dapat kepermukaan. Mereka memegang kantong-kantong plastik tersebut di dalam air.
Semua mereka merasa perlu waspada. Kendati mereka yakin takkan ada seorang pun tentara atau milisi Vietnam yang akan mencoba melihat dari atas. Namun harapan untuk bebas yang tiba-tiba demikian besar membersit, membuat mereka berhati-hati. Mereka tak ingin ada Vietnam yang melihat bahwa mereka tengah mengumpulkan kantong plastik tersebut.
Sore sudah turun saat mereka menyelesaikan pekerjaan menyambung-nyambung tali dari kantong plastik itu. Kini mereka memiliki tali sepanjang lebih kurang lima depa. Cowie memberi isyarat agar menyembunyikan saja tali itu di dalam air. Tak usah dicoba menarik-narik untuk menguji kekuatannya. Cowie, dan mereka semua sepakat, agar bersikap lebih hati-hati. Jangan sampai ada mata yang mengintai apa yang mereka lakukan di dalam lobang ini. Fikiran dan kecurigaan seperti itu tak pernah muncul selama ini. Fikiran itu baru muncul setelah mereka memiliki alat untuk melarikan diri.
Cahaya sore yang merah, membias ke dalam lobang di mana mereka berada. Ke tiga tentara Amerika itu, Letnan PL Cowie, Sersan Tim Smith dan Kopral Jock Graham, tiba-tiba saja seperti orang yang baru bangkit dari kubur. Wajah mereka membiaskan harapan untuk bebas amat besar. Berbeda dari saat sebelum tali plastik itu mereka buat.
Dimana wajah dan mata mereka kelihatan murung dan tak bercahaya. Kini, wajah mereka memang tetap pucat, namun ada rona dan harapan yang membersit di sana. Ketika gelap sudah meraup semua lobang tersebut, Cowie dan si Bungsu segera mengatur ujicoba kekuatan tali plastik yang mereka buat. Wajah mereka membiaskan harapan hidup yang amat besar. Berbeda dari saat sebelum tali plastik itu mereka buat. Dimana wajah dan mata mereka tetap kelihatan murung dan tak bercahaya. Kini, wajah mereka memang tetap pucat, namun ada rona dan harapan yang membersit di sana.
Ketiga gelap sudah meraup semua lobang tersebut, Cowie dan si Bungsu segera mengatur uji coba kekuatan tali plastik yang mereka buat. Si Bungsu menyelam di tempat yang sudah dia beri tanda di mana dia menyimpan tali plastik yang lima depa itu. Tangannya mengaiskan lumpur yang dia jadikan sebagai pemberat, agar tali itu tidak mengapung. Setelah muncul dan tegak di sisi Cowie, dia menyerahkan ujung yang satu kepada letnan tersebut. Sementara ujung yang satu lagi tetap dia pegang.
“Saya dengan Smith, Anda dengan Graham…” bisik Cowie.
“Oke….” ujar si Bungsu.
Kedua orang yang disebut Cowie, Smith dan Graham, yang juga tegak di dekat mereka, segera berbagi tegak. Smith mengikuti langkah Cowie ke dinding yang berseberangan dengan tempat tegak si Bungsu. Sementara Graham mendekatkan tegaknya ke dekat si Bungsu. Kini tali plastik itu mereka regang. Si Bungsu dan Graham di ujung yang satu, sementara Cowie dan Smith di ujung lainnya.
“Siap….?” bisik si Bungsu.
“Yap…!” jawab Cowie.
Keempat mereka memegang masing-masing ujung tali itu kuat-kuat ketika si Bungsu menghitung mundur dari tiga, dua, satu dan nol. Pada hitungan nol, mereka menarik tali itu sekuat mungkin. Namun yang terjadi bukannya tali yang putus, tapi Cowie dan Smith di ujung sana tertarik kuat ke depan. Mereka berdua sampai kehilangan keseimbangan dan kelelep di air.
“Pantat kurap….” sumpah Smith diiringi sederet panjang makin lain.
Rupanya dia tak bisa menahan tarikan kuat si Bungsu dan Graham, beberapa teguk air kental tertelan olehnya. Untuk beberapa saat dia kelam kabut menyemburkan air bekas mayat teman-temannya itu. Cowie tertawa, Graham tertawa. Smith akhirnya ikut tertawa. Cowie segera sadar, tenaga mereka amat tak berimbang dibanding tenaga orang Indonesia itu. Soalnya dia dan Smith memang sudah tak punya tenaga sedikit pun. Habis terhisap selama dalam lobang sekapan dengan makan amat minim selama lebih dari dua tahun. Sementara si Bungsu masih segar bugar.
Si Bungsu juga menyadari perbedaan antara tenaga yang dia miliki dibanding tenaga ketiga teman satu tahanannya tersebut. Dia faham, bertahun-tahun di dalam sekapan, dengan makanan dan minum yang amat kurang, menyebabkan tubuh para tawanan menjadi seperti mayat hidup. Benar-benar hanya tinggal tulang belulang dibalut kulit. Dia sendiri tak yakin bisa bertahan hidup jika ditahan selama itu.
Mereka lalu kembali mengulangi percobaan dalam gelap gulita itu. Kali ini, si Bungsu tegak sendirian, sementara Cowie, Smith dan Graham bergabung jadi satu di ujung yang lain.
“Siap?” bisik si Bungsu.
“Yap…” ujar Cowie.
Si Bungsu kembali mengulang menghitung mundur. Pada saat dia menyebut angka nol, mereka semua mengerahkan tenaga. Menarik sekuat daya ujung tali pada bahagian masing-masing. Hanya beberapa saat, tiba-tiba semua mereka merasakan tali itu putus dan mereka pada tersandar dengan agak keras ke dinding di belakangnya. Nafas ketiga tentara Amerika itu pada memburu.
“Cowie….?” bisik si Bungsu.
“Ya….”
“Putus?”
“Ya….”
“Periksa bahagian ujung yang putus itu…..”
Cowie menghela tali plastik tersebut. Menggulungnya perlahan sampai ujung yang putus itu tiba di tangannya. Demikian juga si Bungsu.
“Bungsu….” bisik Cowie.
“Ya…?”
“Tak ada serpihan bekas putus di ujung tali ini….”
“Ya, di ujung ini juga tidak…” jawab si Bungsu.
“Kalau demikian, tali ini tidak putus. Melainkan terlepas sambungannya…” ujar Cowie.
“Ya, menurut saya juga begitu…” jawab si Bungsu.
“Kita uji lagi?” tanya Cowie.
“Ya, kecuali kita ingin tetap berada di dalam lobang celaka ini selama-lamanya…” ujar si Bungsu sambil melangkah di dalam air, mendekati tempat Cowie dan kawan-kawannya.

tikamsamurai,Dalam Neraka Vietnam-bagian-689
“Kami sudah cukup lama di sini. Kalau ada yang harus tinggal lebih lama, lebih baik kau saja. Sebab pengalamanmu berada di dalam lobang seperti ini harus diperdalam. Makin lama engkau berada di sini makin banyak yang bisa kau pelajari…..” ujar Cowie, disambut tawa cekikikan Smith.
“Sebaiknya Smith atau Graham saja yang diperpanjang masa tugasnya di lobang ini, jangan saya. Saya orang asing, bukan orang Amerika. Jadi tak ada manfaatnya bagi Vietnam….” ujar si Bungsu membalas guyonan Cowie.
Smith bercarut marut diiringi tawa. Senang juga hatinya mendengar senda gurau orang Indonesia ini. Mereka lalu menyambung lagi ujung tali yang ikatannya terlepas itu. Kemudian pengujian kembali dilakukan dengan menarik sekuat mungkin. Beberapa kali mencoba, tali itu memang kenyal dan alot sekali. Tak bisa putus meski ditarik kuat-kuat oleh empat lelaki dewasa. Mereka kini benar-benar punya harapan untuk bisa membebaskan diri. Mereka tak tahu bagaimana caranya. Belum pula pernah merencanakan apapun. Jadi mereka sebenarnya tak tahu, apa yang akan mereka lakukan.
Bisa melarikan diri memang menjadi idaman setiap tawanan. Namun risikonya adalah nyawa. Kendati belum ada rencana apapun, belum tahu kapan saatnya melarikan diri, namun memiliki tali yang amat kukuh dengan panjang sekitar lima depa itu benar-benar memberi dorongan semangat pada mereka. Hidup bebas di luar merupakan bayangan yang amat indah.
“Besok kita uji dengan bergantung di tali ini…” bisik si Bungsu yang bersandar di sisi Cowie.
“Saya yakin, engkau bisa membawa kami keluar dari lobang ini, Bungsu…” ujar Cowie perlahan, didengar dengan diam oleh Smith dan Graham.
“Saya tidak melihat bagaimana caranya. Lobang ini terlalu tinggi untuk dilompati. Kita tak memiliki senjata apapun…” ujar si Bungsu.
Kendati dia berkata perlahan, namun karena mereka berempat tegak berdekatan, semua bisa mendengar percakapan perlahan itu dengan cukup jelas.
“Engkau sudah memulainya kawan. Gagasan membuat tali dari kantong plastik itu tak pernah terfikirkan oleh kami sebelumnya. Kini engkau ternyata melihat hal itu. Kita tunggu saat yang tepat serta merencanakannya sebaik mungkin…” ujar Cowie.
Kemudian mereka lebih banyak berdiam diri. Tak lama setelah itu, si Bungsu memisahkan diri dari kelompok tersebut. Dia pergi ke bahagian lain dari dinding itu. Kemudian orang-orang hanya mendengar suara air bersibak. Cukup lama.
“Hei, kau belajar berenang?” tanya Smith perlahan, diiringi suara tawanya separoh terkekeh.
Tak ada jawaban dari si Bungsu. Suara air berkecipak itu tetap saja mereka dengar berkepanjangan. Akhirnya ketiga tentara itu hanya mendengar dengan diam. Mereka memang tak dapat melihat apapun di dalam lobang itu jika gelap sudah turun. Mungkin ada sekitar tiga atau empat jam suara air berkecipak itu mereka dengar. Setelah itu mereka dengar tarikan nafas, lalu sepi. Mereka lalu tertidur dalam pulas. Paginya semua pada tersentak terbangun mendengar carut marut Smith. Cowie yang membuka mata duluan menatap ke arah Smith, lalu Graham.
Smith ternyata sedang melototkan matanya ke arah si Bungsu. Cowie dan Graham ikut memandang ke arah yang dipandang Smith. Dan mereka juga ikut melotot seperti Smith. Betapa mereka takkan melotot, kalau di seberang sana, mereka melihat lelaki asal Indonesia itu tidur menyandarkan diri. Tapi yang membuat mereka melotot bukannya tidur si Bungsu, melainkan batas air yang terlihat di tubuh lelaki itu. Jika di tentang mereka ketinggian air tetap saja sebatas pangkal leher, di tentang si Bungsu air ternyata hanya sebatas perutnya!
Tidaklah mungkin air di ruangan yang sama, dengan kedalaman lobang yang sama, bisa dangkal di suatu tempat dan dalam sangat di tempat yang lain. Mungkin atau tak mungkin, bukti yang kini mereka saksikan dengan mata kepala sendiri memang begitu. Ketiga mereka lalu perlahan ke arah tempat si Bungsu, yang masih saja tidur pulas. Smithlah yang pertama terhenti langkahnya. Langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja tubuhnya kejeblos ketempat yang lebih dalam. Kepalanya tiba-tiba lenyap dari permukaan air. Dia kaget dan sempat kelelep sebelum akhirnya menggerapai mundur.
“Setan… pantat kurap! Apa-apaan ini?” rutuk Smith begitu kembali berdiri di tempat yang datar.
Si Bungsu terbangun. Dia membuka mata dan segera tertawa sambil menatap kepada tiga teman-temannya yang kurus kerempeng itu. Ketiga mereka kini berada di tengah lobang, sekitar dua meter dari tempatnya.
“Hai…” ujarnya sambil tersenyum.
Ketiga tentara Amerika itu masih melongo menatapnya, yang seolah-olah berada di atas air. Si Bungsu menggapaikan tangannya ke depan, ke bahagian bawah tempat duduk tersebut. Lalu memperagakannya pada ketiga tentara Amerika itu. Mereka masih terlongo, sebab yang diperagakan si Bungsu hanyalah sekepal lumpur. Cowie yang pertama menyadari kenapa orang Indonesia itu kini seolah-olah berada di ketinggian. Hal itu berkaitan erat dengan apa yang dilakukan orang Indonesia itu tadi malam. Dia memang berada di posisi lebih tinggi dibanding posisi mereka kini.
Tadi malam, kecipak air yang mereka dengar selama berjam-jam itu adalah akibat lelaki dari Indonesia ini bekerja keras. Menyelam mengumpulkan lumpur. Lalu menumpuknya di salah satu dinding tahanan. Berjam-jam melakukan penumpukan, tentu saja lumpur itu makin lama makin tinggi. Dan kini, dia tak perlu berdiri lagi. Pekerjaannya malam tadi menghasilkan sebuah ‘kursi’ yang terdiri dari unggukan lumpur. Di kursi itulah dia kini duduk, sehingga air seolah-olah sebatas perutnya. Ketiga tentara Amerika itu kemudian berdatangan ke ‘kursi’ si Bungsu.
Lalu mereka menjadi seperti anak-anak yang mendapat permainan baru. Bergantian naik ke ‘kursi’ lumpur tersebut. Sersan Tim Smith kemudian tak mau kalah. Dia segera melangkah ke sisi dinding yang lain. Kemudian menyelam. Lalu dari kedalaman air itu dia meraup lumpur dengan tangannya. Mengungguk lumpur sedikit demi sedikit ke tepi dinding. Dia juga ingin membuat sebuah ‘kursi’ untuk tempatnya duduk. Malah kalau bisa, dia ingin membuat tempat tidur. Dengan demikian dia tak usah lagi harus berdiri. Dia berharap bisa berbaring-baring di tempat tidurnya yang baru itu. Cowie dan Kopral Jock Graham hanya menatap dengan diam.
Namun lewat tengah hari, mereka dikejutkan dengan dibukanya penutup lobang tersebut. Empat tentara Vietnam dan dua milisi berjejer di atas dengan bedil ditodongkan ke bawah.

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 685-686-687

Dalam Neraka Vietnam -bagian 685-686-687


Dalam Neraka Vietnam-bagian-685
kambut
Smith kalau berjalan pasti tak lurus. Tulang kering kaki kanannya patah dihajar, juga dengan popor bedil.
Kini memang sudah sembuh, tapi tulang keringnya itu bertaut secara tak benar. Kalau dia berjalan, jalannya tak normal. Setelah si Bungsu berada di hari kelima di dalam kurungan itu, barulah orang Vietnam memberi mereka makanan. Makanan berupa sisa yang terdiri dari rebus ubi kayu, keladi dan ikan asin itu dimasukkan ke dalam sejenis kambut. Kemudian dilempar begitu saja ke dalam lobang penyekapan tersebut. Cowie yang pangkatnya memang tertinggi, mengatur agar semua mereka tidak berebutan.
Sebab pengalaman sudah mengajarkan, ketika bulan-bulan pertama disekap, sebahagian dari mereka babak belur saling pukul karena berebut makanan, yang selain tak memenuhi syarat, jumlahnya pun amat sedikit.
“Makanlah, karena mana tahu ini adalah makanan terakhir bagi salah seorang di antara kita…” ujar Cowie.
Mereka makan dengan diam tapi dengan cepat. Hanya beberapa saat, makanan yang menjadi bahagian masing-masing itu habis. Smith malah menjilati tangannya, merasakan nikmatnya rasa asin ikan yang tertinggal di jari-jarinya. Kemudian mereka meminum air yang dikirim bersama makanan itu. Air mentah, tapi jernih, barangkali air sungai atau air sumur, yang dibungkus dengan kantong plastik. Cowie memberi jatah air dua teguk seorang, kemudian tempat air digantung pada sebuah ranting yang ditancapkan di dinding tanah napal itu.
Tak ada yang membantah aturan yang ditetapkan Cowie, karena aturan itu amat mereka perlukan. Mereka tak mungkin meminum air setinggi dada dalam lobang dimana mereka disekap. Selain airnya kuning dan kental karena lumpur, air itu juga sudah kotor dan bau sekali. Maklum, di lobang tersebut sudah lebih dari enam atau tujuh orang yang mati. Setiap ada yang mati, mayatnya tak segera diangkat orang Vietnam. Ada yang sehari, ada yang dua hari, malah seperti mayat terakhir baru pada hari ketiga diangkat. Namun makanan yang mereka terima itu ternyata tak bisa menolong Sersan Mike Clark.
Kondisi sersan itu sudah demikian buruknya sebelum dipindahkan ke lobang laknat ini. Kondisi kesehatannya yang buruk itu diperburuk oleh bau mayat selama tiga hari di dalam lobang 4 x 4 meter itu. Tak lama setelah usai makan, dia diserang demam. Nampaknya dia terkena tularan kawannya dua minggu yang lalu. Dia menggigil dan mengigau. Tiap sebentar tubuhnya melorot dan terbenam ke dalam air. Cowie sudah berkali-kali menyangga badan temannya itu agar tak terbenam. Si Bungsu menyesal kehabisan ramuan tradisionalnya.
Kalau saja dia mendapat sedikit dedaunan atau lumut yang cocok untuk obat, dia yakin dia bisa menolong Mike Clark. Namun dalam kondisi seperti sekarang kemana dia harus mencari dedaunan atau lumut? Tubuh sersan itu dipegangi Jock Graham. Mereka tak berusaha berteriak meminta bantuan kepada dua penjaga yang ada di atas. Teriakan atau panggilan dalam bentuk apa pun takkan pernah diacuhkan. Memanggil atau berteriak hanya akan menghabis-habiskan tenaga. Mereka sudah berkali-kali mengalami hal seperti itu.
Berkali-kali pula yang sakit di dalam lobang penyekapan ini harus menyerahkan nyawa mereka benar-benar pada takdir Tuhan. Hanya ada satu di antara dua kemungkinan yang harus mereka tunggu. Sembuh dengan sendirinya, atau mati. Untuk kemungkinan pertama, bukannya tak ada. Baik Cowie maupun Tim Smith pernah menderita demam berhari-hari. Namun karena demam mereka stadiumnya masih rendah, akhirnya mereka sembuh sendiri. Tetapi sebahagian besar lainnya, demam memang mengantar mereka ke pintu kubur.
Sersan Mike Clark sudah benar-benar tak sadar pada dirinya. Tubuhnya menggigil terguncang-guncang. Setiap satu jam mereka bergiliran memegang tubuh sersan itu agar tak tenggelam. Dan menjelang larut malam, hanya sekitar enam jam setelah mereka mendapat jatah makanan, tubuh sersan itu sudah tak bergerak.
Kebetulan saat itu yang mendapat giliran untuk memegangi tubuh sersan tersebut adalah si Bungsu dan Tim Smith. Si Bungsu memegangi Clark pada bahagian kepala dan punggung, sementara Smith memegangi bahagian pinggul dan paha.
Dengan kedua tangan berada di bahagian bawah tubuh yang ditelentangkan itulah mereka menjaga agar si sakit tidak tenggelam. Sebenarnya, dengan bantuan air menahan tubuh orang agar tak tenggelam tidaklah begitu berat. Apalagi semua mereka di dalam lobang itu, kecuali si Bungsu, badannya pada kurus kerempeng. Kalau saja dinaikkan ke timbangan, beratnya rata-rata mungkin hanya sekitar 40an kilogram. Dengan tubuh di atas 175 cm, berat badan sekian membuat mereka seperti kerangka hidup. Menjelang larut malam itu, si Bungsu merasa tak ada gerakan apapun lagi pada tubuh Clark.
Perlahan tangannya yang memegang kepala Clark, meraba nadi di leher sersan itu. Tak ada gerakan, tak ada denyut sehalus apa pun. Dia tak perlu meraba atau mendengarkan degup jantung sersan itu untuk memastikan apakah dia benar-benar sudah mati atau masih hidup. Tidak, dia sudah belasan kali menghadapi orang yang berada dalam keadaan sakratul maut. Dari pengalaman itu dia sangat yakin sersan ini sudah mati. Dan dia yakin, bagi mereka yang sudah bertahun dalam sekapan ini, kematian merupakan anugerah, dibanding harus mati setelah menderita dalam waktu yang amat panjang.
Si Bungsu kembali meluruskan badannya bersandar ke dinding. Dia menoleh ke arah Smith. Tak ada yang kelihatan, kendati jarak antara mereka berdua hanya sehasta. Kegelapan yang kental menyebabkan suasana di dalam lobang itu tenggelam dalam kelam yang tak terbayangkan.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-686
Namun dia tahu Smith masih tegak di sisinya, juga bersandar ke dinding. Suara nafas lelaki itu dia dengar teratur. Dia juga tahu Smith sedang tidur. Hampir dua tahun disekap seperti ini, membuat tentara Amerika itu benar-benar terlatih dan tahu bagaimana tidur dalam segala kondisi.
Pendengarannya yang tajam juga menangkap dengkur perlahan Letnan Cowie dan Kopral Jock Graham. Perlahan dia berbisik, memanggil Smith yang tegak di sisinya.
“Smith….”
“Ya….” jawab Smith, juga berbisik tanpa membuka mata.
“Orang ini sudah mati….”
Tak ada jawaban. Dari kegelapan di atas sana sayup-sayup terdengar suara burung malam.
“Apa…?”
“Clark sudah mati….”
Smith menarik nafas panjang.
“Kau yakin?”
“Ya…”
Tak ada jawaban dari Smith. Yang dia lakukan, justru melepaskan pegangan kedua tangannya di paha Mike Clark yang tubuhnya mengapung di permukaan air.
“Lepaskan saja…” ujar Smith perlahan sambil menggeliat.
Saat si Bungsu melepaskan pegangannya pada punggung bahagian atas tubuh Clark, juga pegangan di bahagian kepala. Smith masih menggeliat panjang. Dia meregangkan kedua tangannya yang hampir kesemutan tinggi-tinggi ke atas. Lalu dia melemaskan jari-jarinya. Menarik jari itu bergantian satu demi satu, sehingga buku-buku jarinya memperdengarkan bunyi gemeletuk. Kemudian dia menguap panjang dan menegakkan tubuhnya yang bersandar hampir sepanjang malam. Lalu memutar badan bahagian atasnya, melemaskah pinggang dan otot-ototnya yang semua terasa kaku.
Si Bungsu juga melakukan hal yang sama. Meluruskan tegak dari posisi bersandar. Menggeliat dengan meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas. Lalu memutar tubuh bahagian atasnya ke kiri, ke kanan dan sedikit membungkuk. Mereka jelas tak bisa membungkuk benar, karena air di dalam lobang itu tingginya hampir mencapai leher mereka masing-masing. Dalam kegelapan yang kental tersebut, mayat Clark yang mengapung perlahan ke bahagian tengah lobang penyekapan itu, tak kelihatan sama sekali.
Bagi orang-orang di atas sana, bahkan bagi hampir separuh rakyat Amerika; perang Vietnam sudah berbulan-bulan usai. Namun bagi mereka yang berada dalam lobang penyekapan ini, dan bagi ratusan tawanan perang Amerika yang dinyatakan sebagai MIA, yang disekap di puluhan tempat rahasia, perang Vietnam benar-benar belum selesai. Memang tak ada peluru berdesingan atau bom yang menggelegar. Karena mereka yang tertawan dan disekap memang tak memiliki senjata dalam bentuk yang paling purba sekalipun. Tetapi, dalam peperangan ada kata-kata yang dihafal hampir seluruh prajurit yang maju ke me­dan tempur. Kata-kata nasehat sekaligus peringatan itu bermula dari saat latihan.
“Lebih baik bermandi keringat dalam latihan, daripada bermandi darah dalam pertempuran”. Kemudian jika mereka benar-benar sudah berada di medan tempur, ada kata-kata. “Peperangan hanyalah latihan. Menjadi tawanan musuh adalah pertempuran sesungguhnya”. Hanya bagi mereka yang pernah ditawan Vietnam, yang sangat memahami kebenaran kata-kata peringatan itu. Sebagaimana halnya dialami oleh mereka yang kini berada dalam lobang penyekapan bersama si Bungsu, yang disekap di wilayah Vietnam yang mereka tak ketahui di mana lokasinya.
Mendengar ada suara perlahan, Cowie yang juga sedang tidur berdiri, segera terbangun. Membuka mata atau tidak, dalam sergapan gelap seperti sekarang, bagi mereka sama saja. Yang kelihatan hanya hitam kelam. Bahkan mereka juga takkan melihat jari-jari mereka sendiri, kendati mereka meletakkan jari jari tangannya persis di depan mata.
“Smith…” imbau Cowie perlahan.
“Yes, Sir….”
“Clark mati?”
“Yes, Sir! Si Bungsu memastikan hal itu….”
“Bungsu….”
“Ya, Letnan….”
“Sudah berapa lama dia mati?”
“Sekitar sepuluh menit yang lalu, Letnan….”
Letnan Cowie, dan juga Kopral Jock Graham yang ikut terbangun dalam kegelapan yang kental itu, termenung.
“Bungsu…” ujar Cowie perlahan, setelah mereka lama saling berdiam diri dalam kegelapan tersebut.
“Ya, Letnan….”
“Terimakasih, Anda telah ikut bersusah-susah memegangi Sersan Clark.…”
Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia merasa tak perlu mengomentari ucapan terimakasih Co­wie. Fikirannya melayang, sampai kapan mereka berada dalam sekapan ini? Sampai nyawa mereka tercabut satu demi satu, seperti Clark dan yang mati pertama karena malaria itu? Dia tidak ingat sudah berapa belas hari dia berada di dalam lobang sekapan maut ini. Dia tak pernah menghitung. Tetapi ada juga pelajaran yang dia peroleh dari Cowie dan Smith, bagaimana cara melepaskan lelah dalam air berlumpur tersebut. Jika penat berdiri atau bersandar di dalam air yang hampir mencapai dada itu, mereka lalu mengapungkan diri.
Menelentang atau menelungkup di air. Karena airnya kental, berat jenis air itu lebih besar dari berat jenis air sungai yang jernih. Dengan berat jenis air yang lebih besar itu tubuh mereka yang memang sudah kurus dengan mudah mengapung lebih lama dibanding jika mereka mengapungkan diri di sungai. Jika ada yang melihat ke dalam lobang itu pada saat mereka “istirahat” di atas air, ke empat lelaki tersebut akan nampak seperti mayat yang berapungan di air. Mayat Clark ternyata lebih baik nasibnya dari mayat-mayat sebelumnya yang mati dalam lobang tersebut.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-687
Sekitar pukul sepuluh esoknya,dua milisi vietnam datang mengantar makanan untuk mereka.Seperti biasa,jatah mereka tetap saja nasi sisa dan sedikit basi.Di Tambah ikan asin dan rebus umbi keladi,lalu air minum yang di bungkus plastik.Cowie yang sedikit-sedikit bisa berbahasa Vietnam,memberi tahu kedua milisi itu tentang kematian Clark.Karena sudah tiga hari tidak ada yang melihat ke lobang itu,Cowie mengatakan sudah tiga hari dia meninggal.
Kedua Vietnam itu menatap kepada mayat Clark.Kemudian menghilang,tanpa sepatah katapun.Tak lama setelah mereka selesai makan jatah mereka,kedua milisi tadi datang lagi berama tiga orang tentara.
“Telentangkan dia..”ujar seorang tentara Vietnam itu dalam bahasa Inggris yang cukup baik.
Cowie menuruti perintah itu.Ketiga tentara di atas,yang tegak sambil menodongkan bedil,memperhatikan wajah Clark.Mayat itu memang sudah kaku.Mulutnya ternganga,kedua tangannya kaku dan membengkok keatas.Salah seorang dari tentara itu melemparkan tali nilon sebesar empat jari kaki.
“Ikatkan tali itu di bagian lehernya…” ujar si tentara.
Keempat orang didalam lobang itu mengerti,kalau itu sikap berjaga jaga,kalau -kalau tentara itu hanya pura-pura mati.Cowie membuat jeratan di ujung tali itu,kemudian mengalungkan nya ke leher sersan Mike Clark.Ketiga tentara yang di atas menarik tubuh Clark sampai setengah lobang.kemudian membiarkannya tergantung sambil di perhatikan dengan seksama,apakah tubuh yang di gantung itu ada sedikit gerakan.
Tentu saja tubuh itu tak bergerak,karena Clark memang sudah meninggal dari malam kemaren.Setelah beberapa lama memperhatikan,kalau mulut dan tangan mayat itu tak bergerak sedikitpun,barulah tentara yang bisa berbahasa inggris itu memerintahkan untuk menarik mayat itu sampai keatas.Setelah itu peristiwa yang rutin kembali mereka saksikan.Loteng bambu diatas kembali di tutup.Tiga kayu pemberat sebesar tiga kali tubuh manusia kembali di himpitkan di atasnya.Lalu semak dan dedaunan kembali di timbunkan.
Kemudian mereka kembali di cekam suasana sunyi.Si Bungsu menatap air yang seperti biasa disisakan Cowie untuk cadangan.Air itu berada di kantong plastik berbentuk tas kresek berwarna hitam.Sejak dia berada di dalam tahanan ini,entah sudah berapa belas hari,kalau dia tak salah sudah empat kali pengiriman makanan disertai minuman dengan tas plastik tersebut.Jika isinya sudah habis,tas itu dia buang begitu saja ke air,kemudian tenggelam perlahan dan lenyap.Sekali lagi si Bungsu menatap tas plastik yang tergantung di dinding dekat Cowie.
Disangkutkan di ranting yang di tancapkan ke tanah dinding lobang tersebut.Tas yang masih menggelembung di bagian bawahnya.Tak ada air yang menetes,karena pori plastik itu demikian rapatnya.
“Apakah mereka selalu mengirimkan makanan dan minuman dengan tas plastik itu?”tanya si Bungsu pada Cowie dari tempatnya bersandar.
Letnan PL Cowie yang tadi sedang menengadah keatas,mengalihkan tatapanya kepada si Bungsu.Kemudian mengalihkan pandangannya pada tas plastik yang tergantung di dinding itu.Lalu menatap kembali pada si Bungsu,kemudian mengangguk.
“Mengapa..?”
Si Bungsu menggeleng.Namun dengan kakinya dia meraba-raba dasar lobang di sekitar tempatnya tegak.Tak begitu lama meraba-raba,hanya berapa kali mencungkil lumpur,jarinya tersentuh pada sebuah kantong kresek itu.Dengan jari-jari kakinya dia jepit plastik itu,kemudian mengangkatnya ke atas,kemudian tangannya masuk ke lumpur meraih plastik itu,lalu dia perhatikan plastik itu dengan seksama.
Di genggam dan di luruskannya sehingga membentuk sebuah tali yang panjangnya sekitar dua setengah jengkal.Lalu dia pegang kedua ujung nya,di tariknya perlahan.Dia tahu’tali’dari kantong plastik itu cukup kuat dan alot.Takkan putus ditarik.Namun dia tetap ingin mencoba.Ingin membuktikan sekuat apa’tali’ itu.Ternyata liat sekali.ditariknya dengan kuat,tetap tak putus.Cowie yang dari tadi memperhatikan,tiba-tiba tersadar.Dia faham benar apa yang dipikirkan si Bungsu.
“Anda benar…”desis Cowie sembari menatap dengan mata melotot ke arah’tali’plastik yang tengah di tarik sekuat tenaga oleh si Bungsu.
Kopral Jock Graham dan sersan Tim Smith juga terbelalak setelah mendengar ucapan Cowie,kemudian menatap kepada tali yang ada di tangan si Bungsu.
“Kumpulkan semua kantong plastik yang ada dalam lobang ini….”bisik Cowie kepada sersan dan kopral itu.
Dalam beberapa detik,ketiga tentara itu,yang sudah kering kerempeng tersebut segera saja lenyap dari pandangan si Bungsu.Mereka menyelam dan tangan mereka gentayangan ke segala penjuru.Mengundak-ngundak lumpur di dasar lobang tempat penyekapan mereka,berusaha mendapatkan kantong plastik yang pernah mereka terima sebagai tempat minum.Dalam waktu singkat ketiganya segera mendapatkan empat belas kantong plastik.mereka membersihkannya dari lumpur.Kemudian meluruskannya sehingga membentuk sebuah tali.
Sambil membersihkan kantong-kantong plastik itu,sesekali Cowie memandang ke atas.Seperti khawatir kalau-kalau tentara Vietnam yang mengintai apa yang sedang mereka kerjakan.Cowie menyumpahi kebodohan mereka,kenapa tak dari dahulu mereka punya pikiran bahwa kantong plasti itu di sambung-sambung menjadi tali.Mereka bekerja dengan diam.Tiap kantong yang mereka luruskan,mereka buhul di tengah nya.Kemudian mereka sambung-sambungkan.Tiba-tiba saja di tangan mereka kini terdapat tali yang kukuh dan liat.
Panjangnya sekitar tiga meter lebih.Mereka saling bertukar tatapan satu dengan yang lainnya.Kemudian ke bambu-bambu yang melintang jauh di atas mereka.Mata mereka pada berbinar.Untuk pertama kali selama bertahun-tahun,mereka menjadi gemetar dan gugup.Gemetar dan gugup membayangkan kemungkinan mereka bisa keluar dan melarikan diri dari lobang sekapan dan Dalam Neraka Vietnam ini!

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 683-684

Dalam Neraka Vietnam -bagian 683-684


Dalam Neraka Vietnam-bagian-683
images (1)
Sambil melangkahi tiap anak jenjang, matanya melotot ke dada wanita tersebut. Dia masih menahan diri. Tapi pikirannya merayap kemana-mana. Bukan, bukan kemana-mana. Pikirannya merayap hanya ke satu tempat, yaitu ke balik baju wanita itu. Kesela dadanya yang ranum dan sekal. Nafasnya memburu ketika dia sampai di bawah. Perempuan itu lalu naik. Si milisi menoleh ke belakang.
Dan… ampun, ketika perempuan itu naik, pinggulnya yang besar membayang jelas. Terbungkus oleh celana hitamnya yang ketat. Tubuhnya agak kurus. Namun dada dan pinggulnya yang amat sintal membuat lutut lelaki yang melihat goyah gemertak. Senyum dan tatap matanya amat mengundang selera buruk lelaki. Itulah yang terjadi begitu dia menaiki anak tangga di pondok pengawalan tersebut. Dia baru saja akan menghenyakkan pinggulnya di lantai beralas tikar, ketika anggota milisi yang baru turun itu tiba-tiba saja sudah berada di sisinya.
“Ada apa?” ujarnya kaget sambil menatap ke arah milisi tinggi kurus bermata juling yang tegak di depannya.
Perang panjang sering membuat manusia kehilangan akal sehat. Dan akal sehat itulah yang hilang dari tempurung kepala anggota milisi kurus tinggi di pondok penjagaan itu. Dia langsung saja menyergap wanita itu. Si wanita yang kaget bukan main, berusaha berontak dan berteriak. Namun teriaknya tersumbat di tenggorokan. Mulut milisi kurus itu sudah menyumpal mulut si wanita dengan rakus. Berontaknya hanya berupa gelinjang tanpa daya, karena si kurus sudah dikuasai nafsu. Satu-satunya harapan adalah dua milisi lelaki yang kini berada di bawah pondok.
Yang satu adalah yang sama-sama datang dengannya ke pondok ini untuk menggantikan tugas penjagaan. Yang satu lagi adalah teman si kurus, yang akan mereka gantikan. Namun reaksi kedua lelaki itu justru bertolak belakang dengan yang diinginkan si wanita. Kedua mereka justru mengawasi jalan setapak ke arah kampung. Melihat kalau-kalau ada yang datang. Tentu saja takkan ada yang datang. Tempat penyekapan itu terletak di tengah pepohonan dan hutan bambu. Jarak ke perkampungan ada sekitar 500 meter. Memekik kuat pun si wanita tetap takkan terdengar ke kampung. Apalagi pekiknya tertahan di tenggorokan.
Angin bertiup kencang. Atap penutup lobang penyekapan di depan pondok itu terkuak-kuak. Cahaya terang menerobos masuk ke lobang itu. Bau busuk segera menerobos ke atas. Para milisi tersebut segera pada menutup hidung mereka dengan kain. Salah seorang segera melemparkan tali yang tadi dia sandang di bahunya. Si wanita yang masih berpeluh hanya menatap dari tempat duduknya di atas pondok. Dia seperti kehabisan tenaga untuk bergerak.
“Ikat mayat itu dengan tali ini…” ujar pimpinan milisi Vietnam itu dalam bahasa Inggris.
Kendati bahasa Inggrisnya tak begitu baik, namun mereka yang berada dalam lobang sekapan itu faham apa yang disuruh. Letnan PL Cowie maju dan mengikatkan tali sebesar empu jari kaki itu ke pinggang mayat yang sudah tiga hari mengapung di dalam lobang itu. Tali itu segera ditarik. Masih untung mayat itu belum berulat. Udara dingin di dalam lobang tersebut membuat mayat itu tak cepat menjadi rusak. Lalu di bawah todongan bedil salah seorang milisi, dua milisi lain segera menarik mayat itu ke atas. Diperlukan kerja yang cukup menguras tenaga untuk menarik mayat gembung itu.
Si wanita yang masih duduk tersandar menutup hidungnya dan membuang pandangannya ke tempat lain. Betapapun sudah seringnya dia ikut dalam pertempuran dan menyak sikan mayat bergelimpangan, namun melihat mayat gembung yang baru saja diangkat itu tetap saja membuat perutnya mual. Setelah mayat diangkat, bambu-bambu kembali ditutupkan ke lobang tersebut. Kemudian semak-semak ditimbunkan kembali di atasnya. Setelah itu, mayat tersebut mereka bawa kearah hutan. Dan dikubur di sebuah lubang dangkal. Lalu ketiga milisi itu kembali ke perkampungan.
Kini di pondok penjagaan wanita itu hanya tinggal bersama seorang milisi lelaki. Di dalam lobang penyekapan, kelima lelaki yang terkurung di sana bisa agak bernafas lega. Kendati bau bangkai masih saja memenuhi lobang tersebut. Mereka bersandar dengan diam. Air dalam lobang itu nampaknya agak menyusut. Jika semula sebatas dada, kini sudah turun sedikit. Namun masalah mereka untuk bertahan hidup tidak hanya harus berjuang melawan lapar, tapi harus mampu berdiri terus menerus. Tidak satu pun batang atau ranting yang bisa dijadikan tempat berpegang.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah bersandar ke dinding. Penat bersandar mereka berjalan di dalam air berlumpur itu. Si Bungsu menjadi faham cerita Cowie, bahwa sebahagian dari tentara Amerika yang ditawan dalam lobang ini mati karena tak kuat berdiri. Mereka terbenam dan mati lemas. Ini adalah cara menyiksa yang luar biasa. Tentara Vietnam tak perlu rugi sebutir pelurupun untuk membunuh tawanannya. Satu persatu tawanan mati karena lapar, gila atau sakit, kemudian terbenam. Mereka harus berjuang untuk bisa tetap tegak, dengan kaki yang makin melemah.
Semakin lama mereka mampu bertahan untuk berdiri, makin lama pula mereka bisa bertahan hidup. Siapa pun yang berada dalam lobang penyekapan itu pasti takkan pernah membayangkan apa yang mereka hadapi kini. Yaitu kala mereka hidup di kota di Amerika sana, saat mereka masih belum mendaftar menjadi tentara. Saat sebahagian dari mereka masih mengisi hidupnya dengan masuk bar keluar bar. Masuk nightclub yang satu ke nightclub yang lain. Menenggak bir atau wisky, melahap lezatnya hamburger atau sandwich, berjoget dan kemudian main perempuan.
Kini, dalam lobang neraka segi empat berair kuning dan berbau bangkai ini, mereka kembali mendengar cekikikan perempuan. Mereka pada memasang telinga. Suara cekikikan itu suara siapa lagi, kalau bukan suara milisi wanita bertubuh agak kurus tapi berdada dan berpinggul bahenol, yang bisa membuat mata lelaki jadi juling dan lemas kelelep itu. Dia memang sedang terlibat pembicaraan dengan teman lelakinya yang sama-sama menjaga di pondok pengawalan tersebut. Penempatan pengawalan di pondok itu nampaknya hanya sebagai sikap berjaga-jaga.
Lobang itu memang tak perlu diawasi benar. Sebab, hampir bisa dipastikan orang yang disekap di dalamnya, takkan bisa melarikan diri. Tapi begitulah, namanya saja tawanan perang. Kan aneh kalau tak ada yang menjaga tempat mereka ditawan. Itulah sebabnya setiap 12 jam pengawalan ditukar.
Perempuan itu sedang berada dalam posisi berbaring menelungkup di lantai pondok. Di bahagian depan, agak ke samping kanan, duduk temannya yang lelaki. Sesekali memandang ke arah timbunan semak belukar yang menutupi lobang penyekapan. Namun matanya lebih sering menatap bongkol pinggul perempuan yang menelungkup itu.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-684
si bungsuAtau ke dadanya yang seakan-akan mau pecah karena tertekan ke lantai. Nampaknya si lelaki sedang membicarakan peristiwa tadi, yang membuat wanita itu terpekik-pekik. Si wanita nampaknya memang centil, atau katakanlah dia termasuk wanita jongkek. Sebab tiap sebentar, bila ada yang agak lucu atau yang tak dapat dia komentari, tangannya mencubit paha lelaki tersebut. Akan halnya lelaki, yang masih berusaha bertahan duduk, nampaknya berprinsip “Bukan kaba sambarang kaba, kaba dibao mantiko muncak. Bukan saba sambarang saba, saba mananti kutiko rancak”.
Dan saat kutiko rancak itu tiba, yaitu saat darahnya sudah naik ke ubun-ubun, dia menjerembabkan diri ke atas tubuh perempuan jongkek yang sok-sok mene lungkup itu. Perempuan itu terpekik kecil. Bukan pekik terkejut apalagi pekik marah. Dari pekiknya saja orang pasti bisa menebak dia memang jongkek. Sebab pekiknya hanya perlahan, diiringi erangan, entah apa yang dierangkannya. Pokoknya dia mengerang. Si lelaki yang juga bertubuh agak kurus, segera membuat pekerjaan tangan. Maksudnya tangannya bekerja ke bawah, ke atas. Meraba meremas.
Dan si perempuan nampaknya memang mengharap kan semua yang diperbuat si lelaki. Dia menelentangkan diri. Kemudian dia pula yang mendahului membuka baju si lelaki.
“Suara seperti itu pasti suara poyok…” ujar Tim Smith menggerendeng.
Ke empat lelaki lain dalam lobang sekapan itu hanya berdiam diri. Dari atas sana makin jelas terdengar suara wanita dan lelaki. Mengerang, mendesah. Makin lama makin keras, makin lama makin cepat. Kemudian suara pekik panjang perempuan, kemudian suara pekik panjang lelaki. Lalu diam.
“Ayo main tebak-tebakan. Kenapa mereka memekik?” tiba-tiba kesunyian di dalam lubang itu dipecahkan oleh suara Tim Smith, sersan yang rambutnya hampir botak dan tukang carut itu.
Pertanyaan yang dia lontarkan mau tak mau membuat semua yang ada dalam lobang itu nyengir. Jarang sekali mereka bisa tersenyum. Hal itu disebabkan tak satupun yang bisa dianggap lucu, atau tak satupun bisa menghibur hati mereka selama berada dalam lobang terkutuk itu. Namun ucapan yang dilontarkan Tim Smith sebentar ini, ajakan untuk main tebak-tebakan kenapa kedua orang di atas sana memekik-mekik, benar-benar memaksa mereka untuk tersenyum.
Meski senyum yang lebih tepat disebut nye­ngir. Sebab, betapapun bentuk senyum yang tergurat di wajah orang-orang seperti mereka, yang kelihatan adalah guratan muram. Segala bentuk ekspresi, termasuk ekspresi marah, menjadi berbeda tampilnya di wajah, karena dirobah oleh ketegangan dan derita selama bertahun di dalam penyekapan.
“Ayo, siapa bisa menerka. Kenapa mereka memekik?” kembali Smith melontarkan pertanyaan.
Tak ada yang menjawab, selain senyum tergurat di wajah setiap orang dalam lobang itu, termasuk si Bungsu. Sampai akhirnya Kopral Jock Graham, petugas bahagian radio yang sama-sama diangkut dengan truk bersama si Bungsu, memberikan jawaban.
“Mereka dicekik hantu…” ujarnya.
Jawaban itu membuat senyum semakin lebar di wajah kelima lelaki tersebut.
“Mereka bukan dicekik hantu, tapi pekik menyindir. Kau yang disindirnya, Smith…” ujar Sersan Mike Clark.
Mereka tersenyum lagi. Smith yang semula tertegun, tiba-tiba terkekeh.
“Bukan, bukan aku yang mereka sindir de­ngan pekiknya itu. Mereka menyindir kita semua…” ujar Smith.
Mereka kemudian pada tertawa. Tetapi setelah itu, hari-hari mereka lalui dengan kesunyian dan derita panjang. Memang tak ada penyiksaan dalam bentuk pemukulan. Tapi apa yang mereka alami dalam lobang itu tak kalah dahsyatnya dari penyiksaan dalam bentuk sepak dan terjang. Akan halnya sepak, terjang atau cabut kuku, itu mereka alami di tahun pertama mereka tertangkap. Co­wie misalnya, giginya copot dua buah akibat dihajar popor senapan.

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 681-682

Dalam Neraka Vietnam-bagian 681-682


Dalam Neraka Vietnam-bagian-681
“Maksud anda…?”
“Alfonso Rogers,Ayah Roxy,bersedia membayar saya berapa saja.Asal anak gadisnya bisa di cari dan di bebaskan..”
“Lalu…”
“Ya,sekarang uang bayarannya tak mungkin lagi saya minta.Anak itu sudah bebas,sedangkan saya di sini.Di antara mayat hiup dan mayat beneran.Kecuali kita bisa membuka Bank di lobang ini,dan ayah gadis itu bisa mengirimkan uang itu kesini…”ujar si Bungsu sambil tersenyum.
Si rambut hampir botak kembali memaki-maki.Namun Letnan Cowie dan yang lainnya hanya nyengir mendengar guyonan orang Indonesia ini.
“Barangkali anda bisa menolong kami keluar dari lobang berair ini Bungsu.Saya sudah tak peduli mati hari ini atau esok.Tapi,kalau mati saya memang akan protes dikuburkan dalam lobang ini..”ujar Cowie sambil meludah.
“Hei,hei,hei!Apakah aku tak salah dengar,bahwa engkau mempercayai orang berkulit berwarna ini akan membebaskan kita?”ujar si rambut hampir botak.
“Jangan dengarkan omomgannya.Jika ada orang yang tak di caci makinya mungkin ibu bapaknya,tapi aku juga kurang yakin akal hal itu…”
Ucapan si Letnan belum berakhir.Sersan Tim Smith yang berambut hampi botak itu menerjangnya.Namun gerakan kakinya seperti film yang di putar lambat,slow motion kata orang.Letnan Cowie mengibaskan kaki kurus yang terangkat di air secara perlahan itu.Tim Smith segera terjengkang.Tubuhnya tak tenggelam karena cowie dengan cepat meraih leher bajunya yang compang-camping itu.
“Fuck you!Fuck..Fuck..!!!”maki Tim Smith bercarut-carut.
Dan ujung carutnya adalah batuk yang terkaing-kaing.Lidahnya sampai terjulur dan liurnya meleleh oleh batuk terkaing-kaing panjang itu.Si Bungsu baru benar-benar merasakan sebagian Dalam Neraka Vietnam.Selama tiga hari dia di dalam lobang itu tak sebutir nasipun atau sepotong makanan apapun yang di berikan tentara Vietnam kepada mereka.Namun yang benar-benar membuat mereka kehabisan tenaga adalah bau mayat.Mayat tentara Amerika yang kepalanya di popor waktu pertama kali datang di pinggir lobang ini tak pernah di angkat.
Mayat itu sudah menggembung besar.Baunya minta ampun.Dua tentara yang sama di campakkan ke lobang itu berkali-kali jatuh pingsanNamun letnan Cowie dan sersan Tim Smith berusaha agar dua orang yang sebentar pingsan itu tak tenggelam.Sebab,jika itu terjadi di pastikan dalam satu menit orang itu akan mati.Kedua orang itu,Cowie dan Smith,nampaknya sudah agak imun dengan bau mayat.Mereka memang ikut menderita dengan bau mayat itu tapi tak sampai pingsan.
Dalam waktu tiga hari dalam keadaan tak makan dan minum itu,si Bungsu jadi tahu azab apa yang dialami Cowie,Smith dan teman-temannya.Mereka di beri makan apabila orang Vietnam itu merasa perlu untuk memberi.Kadang-kadang sekali sehari,kadang-kadang sampai dua atau tiga hari baru di beri makan.Makananya pun makanan yang sudah agak basi atau makanan yang sudah akan di buang.Benar-benar tak ada gunanya memikirkan konvensi perang tentang hak-hak tawanan perang.
Bahkan ketika bau busuk sudah tak tertahankan,Cowie mengingatkan tak ada gunanya memanggil penjaga.Teriakan memerlukan tenaga.Teriakan menguras energi.Tak ada gunanya,sekalipun sampai ke langit mereka berteriak,takkan ada yang peduli.Lebih baik menyimpan tenaga agar tak lebih menderita.satu-satunya harapan mereka mengisi perut adalah ketika hujan.Dengan membuka baju dan menambung air hujan,mereka peras langsung ke mulut.
Air perasan baju itu,alangkah nikmatnya,untuk mengisi perut mereka juga memakan cecak yang jatuh ke lobang tersebut.
“Apapun yang jatuh dari atas,cecak,lipan,keong,katak dan ular sekalipun pernah kami makan ketika ada ular sebasar tangan jatuh kesini,habis kami santap.Hal itu kami lakukan semata-mata demi pempertahankan hidup..”ujar Cowie perlahan.
“Saya punya firasat.Dan saya selalu yakin pada firasat saya,karena seringkali terbukti benar,bahwa siapaun diri anda Tuan,kami berharap anda bisa membantu kami keluar dari Dalam lubang Neraka ini..”ujar Cowie sambil menatap si Bungsu.
Kali ini Tim Smith yang tukang carut-carut dan induk cemooh itu,tak mengeluarkan kata sepatahpun.Semula dia menatap pada komandan kompinya yang bernama PL Cowie itu dengan tatapan heran mendengar ucapan yang sungguh-sungguh itu.Ketika dia lihat Cowie menatap lelaki asing itu,dia jadi sadar kalau lelaki itu bukan kroco sebagaimana yang dia duga. Cowie tak pernah memuji jika sesuatu yang dia yakini dan tak pantas di puji.Cowie juga tak pernah berharap,jika firasatnya mengatakan kalau tak ada harapan.
Lalu dia juga ikut menatap si Bungsu.Si Bungsu hanya berdiam diri.Sesekali menggaruk paha,perut dan punggungnya yang gatal.Tiba-tiba Smith ingat sesuatu.Dia teringat perkataan Smith,Dua,tiga hari lalu yang di ucapkan nya berkali-kali.
“Ini orang yang kau sebutkan itu letnan?”ujar Smith perlahan.
Cowie menatap pada Smith beberapa saat.Kemudian mengangguk.Si Bungsu dan kedua tentara lainnya hanya berdiam diri,tak mengerti apa yang di bicarakan kedua orang tersebut.
“Tapi…tapi saya tak melihatnya membawa samurai..”sambil mempelototi si Bungsu.
Mendengar ucapan itu,si Bungsu lah yang tersentak.Dia menatap pada Smith,kemudian pada Cowie.Smith kembali bicara.
“Cowie adalah,maaf,maksud saya,sebagaimana orang Amerika keturunan negro lainya,nenek moyang Cowie berasal dari afrika.Beberapa di antaranya masih mewarisi naluri,firasat atau pengetahuan metafisik,semacam ilmu dari dunia ghaib.Pasukan kami beberapa kali selamat karena firasat leluhurnya itu.Dan kami masuk ke lobang Neraka ini karena komandan kami tak mengikuti saran nya.Nah,beberapa kali Cowie berkata,bahwa dia melihat sebuah bayangan orang asia,berpedang samurai,yang akan datang membebaskan kami.Setahu saya,bangsa yang memakai samurai hanya bangsa Jepang..Tapi..menurut dia sebentar ini,anda lah yang beberapa kali dia lihat dalam bayangan metafisik itu.Apakah anda membawa samurai..?”ujar Smith.
Lama si Bungsu terpana mendengar cerita tim Smith.Dia menatap PL Cowie,negro kurus berbibir tebal dan berambut kribo itu juga menatapnya.si Bungsu segera menyakini cerita Tim Smith kalau ada seseuatu yang lain pada diri negro yang satu ini.Nalurinya membisikkan itu.Sebaliknya,sejak awal-awal kedatangan si Bungsu,Cowie sudah merasakan bahwa lelaki itu bukan sembarang orang.Si Bungsu tiba-tiba teringat pada Thi Binh.Gadis itu juga pernah melihatnya dalam mimpi.Mimipi itu,menurut penuturan thi Binh,datang berkali-kali saat dia di perkosa dan di paksa menjadi budak nafsu di barak pasukan Vietnam.
Kini ternyata mengalami hal yang sama.Bedanya,jika Thi Binh melalui mimpi,Cowie melihatnya dalam bayangan Metafisik.Semaca halusinasi dan bayang samar,saat orang tertentu berkonsentrasi dan menghubungkan diri dengan alam ghaib.
“Anda pernh memiliki samurai ?”desak Smith.
Si Bungsu menatap pada Cowie.Cowie juga tengah menatap padanya dengan tajam.Demikian juga Smith dan kedua orang lainnya.Akhirnya si Bungsu mengangguk.Ketiga tentara itu pada terpana.
“Oh,my god..!Anda akan mempergunakannya?”ujar Smith dengan suara bergetar.
Si Bungsu tak segera menjawab.Namun di depan Cowie tak seharusnya dia menutup-nutupi siapa dirinya.Lelaki ini memiliki pandangan yang menembus ruang dan waktu.Yang dalam ilmu pengetahuan di sebut alam metafisik,yang di warisi dia dari leluhurnya dari belatara Afrika sana.
“Anda mahir memergunakan samurai?”kembali smith bertanya.
Keempat tentara dalam lobang itu kembali di ingatkan kembali pada keaadaan mereka saat ini.Mereka juga menatap keliling,kemudian keatas.Ke Bambu yang silang menyilang yang di jadikan penutup lubang.Jerajak bambu yang di jadikan penutup lubang itu sebesar paha lelaki dewasa hanya sekitar empat meter di atas mereka.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-682
Namun karena kukuhnya dan karena kondisi mereka seperti sekarang, tanpa alat apapun untuk bisa dipakai melarikan diri, atap bambu yang tingginya hanya empat meter itu terasa berada jauh di atas langit sana.
Kelima mereka hampir serentak memandang ke atas. Karena saat itu sayup-sayup mereka mendengar pekik wanita. Namun yang terlihat tetap saja bambu
bersilang-silang empat segi, daun pepohonan yang ditimbunkan ke bambu itu, yang berfungsi sebagai kamuflase sekaligus atap lobang tempat mereka
disekap. Tak ada satu pun yang terlihat. Yang sampai ke tempat mereka hanya suara pekik dan erangan perempuan. Suara pekik dan erangan itu memang
berasal dari mulut seorang wanita, datang dari pondok penjagaan sekitar tiga depa dari mulut lobang tempat menyekap tawanan perang tersebut.
Karena dekatnya jarak antara mulut lobang dengan pondok itulah makanya mereka yang berada di dalam lobang tersebut tidak hanya mendengar pekik si
wanita, tetapi juga erangannya. Bahkan sayup-sayup mereka menangkap suara nafas yang tersengal-sengal. Nafas memburu seperti berlari kencang yang
keluar dari mulut lelaki, yang juga keluar dari mulut wanita. Mereka menatap nanap ke atas dengan mata hampir melotot. Seolah-olah ingin mengetahui apa
sebenarnya yang tengah terjadi di atas sana. Di atas sana, di pondok penjagaan itu, memang sedang terjadi sesuatu.
Milisi Vietnam, yaitu orang-orang sipil yang menjalani wajib militer, tidak hanya dikenakan pada kaum pria. Juga dikenakan kepada wanita. Itu pun tidak hanya
kepada mereka yang dewasa, yang masih kanak-kanak pun demikian. Soalnya, sebelum pecah menjadi Vietnam Utara dan Selatan, negeri ini sudah menjalani
peperangan yang sangat panjang. Sudah sejak zaman negeri ini dijajah Perancis selama 100 tahun. Dalam perang yang amat panjang untuk merdeka, yang
meremukkan hampir seluruh sendi kehidupan Vietnam itu, negeri tersebut sudah mengorbankan ratusan ribu, jika tidak jutaan orang.
Itulah sebabnya hampir semua penduduk, lelaki wanita, tua maupun muda, dihimbau untuk angkat senjata melawan penjajahan, atau siapa saja yang
mencoba mengekspansi negeri mereka. Yang terakhir, dalam upaya menyatukan negeri itu di bawah kekuasaan komunis, mereka berusaha merebut kembali
Vietnam Selatan yang dibeking habis-habisan oleh Amerika. Namun mereka, orang-orang utara, yang sebelum dan semasa penjajahan Perancis sebenarnya
bersatu dengan selatan, kini tidak hanya berhasil menyatukan kembali selatan dengan utara, tetapi juga mengusir tentara Amerika.
Mengusir tentara dari negara paling super dan paling ditakuti, karena memiliki peralatan perang paling canggih di dunia. Jika akhir peperangan itu
mendatangkan rasa bangga yang luar biasa bagi rakyat Vietnam Utara yang komunis, karena berhasil mengalahkan tentara dari negara terkuat di dunia, maka
bagi Amerika akhir perang Vietnam adalah sebuah aib besar, yang takkan mungkin terhapus dengan apapun sepanjang zaman. Wanita Vietnam yang ikut
memanggul senapan tugasnya sama saja dengan pria. Dalam perang selama puluhan tahun, mereka sudah tertempa dengan berbagai kondisi.
Hari itu, saat kelima tawanan di dalam lobang sekapan mendengar suara jerit dan erang, adalah saat aplusan untuk menjaga lobang penyekapan tersebut.
Saat si Bungsu pertama tiba, yang menjaga adalah dua milisi pria, maka kini yang menggantikan adalah seorang milisi wanita dan seorang milisi pria. Para
milisi ini berpakaian hitam-hitam, semuanya tanpa tanda pangkat. Perang, sebagaimana terjadi di belahan bumi manapun, ternyata tidak hanya
mendatangkan bencana secara fisik kepada negeri tempat terjadinya perang, tetapi juga memporak-porandakan moral dan nilai-nilai.
Yang paling menderita adalah para wanita. Ya musuh, ya orang kampung sendiri, asal dia ikut berperang tiba-tiba saja fi’ilnya berubah menjadi beringas. Kaum
wanitalah yang senantiasa paling banyak menjadi korban kebuasan perang. Kebuasan tentara penyerang, maupun tentara pihak bertahan.
Begitulah kebuasan sebuah perang. Kebuasan yang tak mengenal batas moral dan agama. Tak mengenal batas buruk dan baik. Bila keberingasan dan nafsu
sudah memanjat ke ubun-ubun, semua batas pun runtuh.
Dua milisi yang tegak berjaga di bawah pondok itu pun bersiap turun, manakala melihat penggantinya sudah tiba. Saat keduanya akan turun, tiba-tiba yang
seorang matanya terpandang pada dada wanita milisi yang akan menggantikannya. Padahal baju seragam tentara berwarna hitam yang dikenakan wanita itu
buahnya terkancing semua. Namun karena dada wanita itu memang demikian ranum dan sekal, ada celah terbuka di antara dua kancing bajunya. Dari celah
baju yang tersingkap tak sampai seukuran kelingking itu, dia mengintip pangkal dada wanita tersebut. Putih dan memabukkan dan mengirimkan sentakan ke
ubun-ubun.
Anggota milisi yang akan turun itu mendagut liurnya. Lalu dengan kaki separoh menggigil menuruni tiga buah anak tangga pondok tersebut.

tikam samurai - Dalam Neraka Vietnam -bagian 678-679-680

Dalam Neraka Vietnam-bagian 678-679-680


Dalam Neraka Vietnam-bagian-678
kurungan lumpur“Hei orang asing, itu kali terakhir aku menolongmu. Setelah itu kau harus menolong dirimu sendiri. Sudah dua hari kau kupegangi agar tak mampus lemas…” ujar tentara itu menyumpah.
Si Bungsu memperkuat tegaknya di dalam air. Kemudian dia mengangguk, lalu jambakan pada rambutnya dilepaskan. Tubuhnya masih doyong dan jatuh berlutut, kepalanya segera tenggelam. Dia cepat menyesuaikan diri. Sesaat kepalanya muncul, dia kembali terbatuk. Kedua tentara Amerika yang sudah hampir dua hari memegangi ketiga orang itu hanya menatapnya dengan diam. Si Bungsu dengan susah payah melangkah di dalam air kuning kental yang hampir setinggi leher dan lumpurnya ternyata tebal sekali di dasar kurungan tersebut. Kemudian dia bersandar ke dinding tanah.
Cahaya matahari siang yang menerobos masuk dari celah dedaunan kering, yang selintas kelihatan hanya seperti timbunan sampah yang menutup bahagian atas kurungan itu, membantu si Bungsu mengenali ‘rumah baru-‘nya tersebut. Sambil bersandar dia mengurut beberapa urat di tengkuknya. Kemudian di perutnya. Dalam waktu tak begitu lama, semua rasa sakit akibat hantaman popor itu lenyap. Kemudian dia menoleh pada mayat yang mengapung tertelungkup hanya semeter dari tempatnya tegak. Dia segera tahu, mayat itu adalah mayat tentara yang kena malaria tropikana itu.
Kemudian matanya menatap kepada dua tentara yang masih terkulai yang dipegang oleh dua temannya. Dia tahu, kedua tentara itu adalah yang sama-sama diangkut dengannya dengan truk. Dia juga tahu, kedua mereka pingsan akibat pukulan popor senapan di belakang kepalanya, seperti yang dia terima sebelum jatuh ke lobang ini. Si Bungsu melangkah ke arah mereka. Di bawah tatapan kedua tentara itu dia mengurut perlahan urat di belakang tengkuk dan pada bahagian tertentu dekat pusar kedua tentara yang masih pingsan tersebut.
Tak lama kemudian kedua tentara yang pingsan itu terdengar mengerang. Kemudian nafas mereka mulai normal. Kemudian membuka mata. Kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Kedua tentara yang tadi memegang mereka menyumpah dan menatap heran pada si Bungsu.
“Pantat kurap! He.. orang asing, apakah kamu punya ilmu sihir makanya bisa membuat orang sembuh secepat itu?” ujar yang rambutnya hampir botak.
“Terimakasih, kawan. Kalian sudah menyelamatkan nyawa saya dan orang-orang ini dengan memegang kami agar tak mati terbenam selama….. berapa lama tadi kau katakan?” ujar si Bungsu.
“Pantat kur….”
Sumpah serapahnya terhenti karena disikut temannya yang seorang lagi.
“Hei…. Hei..! Kenapa kau main sikut. Karena kau letnan dan aku sersan, he? Tak kau lihat keanehan yang dia lakukan? Hanya dengan menjilat tengkuk dan pusat si kerempeng yang berdua ini, dia bisa membuat mereka bangkit dari liang kubur. Tak kau lihat keanehan itu…?”
Si rambut hampir botak itu benar-benar mencerocos seenak udelnya. Mengatakan si Bungsu menjilat tengkuk dan pusar kedua orang itu. Padahal yang dilakukan si Bungsu adalah mengurut dengan jari-jarinya. Kemudian dia mengatakan kedua orang yang baru ditolong si Bungsu itu sebagai dua orang yang ‘kurus kerempeng’. Seolah-olah tubuhnya gemuk benar, padahal hanya tinggal tulang belulang. Si letnan, seorang Negro dengan bibir tebal dan rambut benar-benar kribo saking lamanya tak bertemu tukang pangkas, yang menyikut si sersan hampir botak itu, tersenyum mendengar cerocos kawannya.
“Hai, kawan Anda bisa bahasa Inggris?” tanya letnan Negro tersebut dengan sikap sopan.
Si Bungsu mengangguk. Kemudian menatap jerajak bambu yang di atasnya ditimbuni sampah, jauh di atas kepala mereka. Saat itu seekor cecak jatuh dari sela-sela timbunan dedaunan tersebut. Belum sampai sedetik tubuh cecak kecil itu terhempas ke air, si Bungsu dibuat terkejut oleh apa yang dilakukan kedua tentara tersebut. Mereka hampir serentak, melompat ke arah jatuhnya cecak tadi dengan tangan terulur dan jari-jari terkembang siap menangkap cecak, itu. Ternyata si hampir botak lebih cepat. Si Bungsu dapat melihat dengan jelas tangan kanan sersan itu menyambar cecak yang baru jatuh itu.
Namun si hampir botak tak segera berdiri. Dia justru langsung menyelam. Si letnan menarik nafas, kemudian melangkah lagi ke dinding. Lalu matanya menatap ke atas, ke arah bambu yang menjadi atap lobang seperti mengharapkan sesuatu jatuh lagi dari atas sana. Saat itulah si hampir botak timbul lagi dari menyelam. Si Bungsu merasa mual tatkala melihat ujung ekor cecak itu masih tersembul sedikit di antara bibir si hampir botak. Ekor cecak itu masih bergerak-gerak. Namun dengan cepat lidah si hampir botak terjulur keluar, mulutnya ternganga sedikit, dan ekor cecak itu lenyap!
Kemudian kelihatan si hampir botak menelan dengan luar biasa nikmatnya. Si letnan, dan dua tentara yang tadi datang bersama si Bungsu hanya melihat dengan diam. Malah selera mereka seperti ikut terangsang melihat si hampir botak itu menikmati cecak sebesar telunjuk tersebut. Si Bungsu menahan rasa mualnya dengan menatap dinding kurungan yang seluruhnya terdiri dari tanah napal.
Nampaknya lumpur yang ada di bawah kaki mereka sengaja dimasukkan, begitu juga airnya. Sebab air yang kedalamannya hampir mencapai leher mereka itu, kuning dan bau sekali.
Hal itu tentu berbeda kalau air ini berasal dari dalam tanah. Saat itu si sersan yang tadi bertanya apakah si Bungsu bisa berbahasa Inggris kembali bersuara.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-679
“Saya tahu bangsa Amerika berasal dari berbagai suku bangsa. Anda dari tentara reguler atau wajib militer?” tanya letnan tersebut.Si Bungsu menatap letnan itu beberapa saat. Kemudian menatap sersan yang hampir botak kepalanya itu. Lalu dua tentara lainnya, yang sama-sama diangkut bersama dia dengan truk. Keempat orang itu, semuanya berpakaian loreng yang sudah kehilangan bentuk, lusuh dan robek hampir di seluruh tempat, menatapnya dengan diam.
“Tidak, saya bukan dari ketentaraan Amerika…” jawab si Bungsu perlahan.
Si Letnan dan ketiga tentara lainnya terdiam sembari menatap si Bungsu beberapa saat.
“Well, kalau begitu Anda tentu bertugas sebagai mata-mata bayaran?” tanya si letnan, namun ucapannya segera disambar si kepala hampir botak.
“Sudah kukatakan tadi, dia tukang sihir.…”
Namun si letnan dan kedua tentara yang lainnya tak ambil peduli dengan ucapan si sersan. Begitu juga si Bungsu.
“Saya orang Indonesia. Saya tidak berkerja untuk dinas rahasia mana pun, termasuk yang tadi Anda sebutkan…” ujar si Bungsu perlahan.
“Pantat kudis! Kalau begitu dia ini mata-mata Vietnam, yang sengaja diselusupkan.…”
Ucapannya terhenti lagi oleh tepukan tangan si letnan di tengkuknya.
“Pantat! Kau tak percaya dia mata-mata Vietnam? Dia sudah mengatakan tidak bekerja untuk Amerika, lalu untuk siapa lagi dia bekerja, kalau bukan untuk Vietnam? Dia mengatakan orang In…. apa itu tadi? Mana ada negara yang dia sebutkan tadi…” ujar si sersan, yang seumur hidup memang tidak pernah mendengar ada negara bernama Indonesia.
Si Bungsu kembali memperhatikan lobang besar tempat mereka dikurung, kemudian menatap ke atas. Dari semua yang dia perhatikan, dia yakin siapapun yang disekap di lobang ini, termasuk dirinya, takkan bisa melarikan diri tanpa bantuan orang yang berada di atas sana. Dia yakin, kalaupun mereka bisa mencapai bambu yang menutup lobang ini, misalnya dengan cara yang satu berdiri di bahu yang lain, agaknya tiga atau empat orang sambung bersambung, pintu bambu itu takkan bisa mereka buka. Dari bawah kelihatan tiga kayu sebesar manusia gemuk, dibelintangkan di “atap” bambu.
“Di mana Indonesia itu? Salah satu negara di Afrika atau Asia Tengah?” ujar si letnan yang seumur hidup juga belum pernah mendengar nama Indonesia.
“Antara Singapura dengan Australia…” ujar si Bungsu.
“Oo… sebelah mana Bali…?” tanya si letnan.
Si Bungsu balas menatap si letnan.
“Anda pernah ke Bali…?”
“Tidak, tapi negara itu kabarnya indah sekali. Sebuah sorga di laut Pacific, kata orang…” ujar letnan tersebut.
Si Bungsu menarik nafas. Bagi dia, yang hampir setahun berada di Amerika, menjelajahi belasan kota di sana, antara lain New York, Dallas, Los Angeles, Washington DC dan San Fransisco, ucapan si letnan bukanlah hal yang aneh. Sebagian besar orang yang dia kenal di Amerika memang tak pernah mengenal nama Indonesia. Sebagian kecil di antaranya hanya mengenal nama Bali. Bahkan beberapa di antara yang dia kenal justru pernah datang ke Bali. Tapi sebahagian dari mereka yang pernah ke Bali juga tak tahu bahwa Bali itu hanyalah sebuah pulau yang amat kecil di negara bernama Indonesia.
Dia tak tahu kenapa kejanggalan seperti itu, tak dikenalnya nama Indonesia oleh kebanyakan orang Amerika, bisa terjadi.
“Bali itu adalah bahagian dari Indonesia…” ujar si Bungsu perlahan sambil jari-jari kaki kanannya menggaruk betis kaki kirinya di dalam air, yang terasa gatal sekali.
Matanya kembali menatap loteng bambu di atas sana.
“Ingin mencoba lari…?” ujar si Letnan.
Si Bungsu menatapnya.
“Kami sudah lebih dari setahun di sini, kau lihat dinding itu?” ujar si letnan sambil menunjuk ke dinding yang berada di sebelah kanannya.
Si Bungsu menoleh ke arah yang ditunjuk letnan tersebut. Dinding itu, setinggi yang bisa dijangkau tangan, penuh goresan pendek-pendek. Nampaknya tiap sembilan goresan pendek ditutup dengan sebuah garis menyilang. Goresan menyilang di dinding itu menjadikan tiap satu ikat goresan tersebut genap sepuluh. Ada puluhan ikat goresan memenuhi dua dinding tanah napal tersebut.
“Satu goresan adalah satu hari. Kami berhenti pada goresan ke lima ratus. Semula pada setiap goresan kami memiliki harapan untuk bebas. Baik dibebaskan teman, dibebaskan karena perang usai dan kesepakatan penukaran tawanan perang diperoleh antara Amerika dan Vietkong, atau bebas karena melarikan diri. Namun, barangkali sudah beberapa bulan yang lalu kami berhenti menggores. Tak ada gunanya membuat goresan lagi. Kami berhenti berharap. Dahulu jumlah kami tujuh orang. Lihat dinding itu, ada tujuh nama di sana. Yang lima yang diberi tanda sudah mati di lobang ini. Yang terakhir mati adalah Sersan Matley, barangkali dua bulan yang lalu…” tutur si letnan perlahan.
Keadaan menjadi sunyi saat si Bungsu menatap ke arah tujuh nama di dinding tersebut. Menatap lima tanda di ujung lima nama. Dari dua nama yang tertoreh di sana, yang belum diberi tanda, si Bungsu menjadi tahu nama kedua orang yang masih hidup ini. Sebab di akhir tiap nama mereka dicantum kan pangkat yang bersangkutan. Si letnan ternyata bernama PL Cowie. Dia tak tahu apa kepanjangan PL tersebut. Kalau Cowie pasti nama klan atau nama ayah. Sementara si sersan yang rambutnya hampir habis, sehingga kepalanya hampir botak, yang kalau bicara suka menyumpah dan memaki, bernama Tim Smith.
“Well, kalian yang berdua, apa pangkat kalian dan dari kesatuan mana kalian?” ujar si letnan kepada dua tentara Amerika yang datang bersama si Bungsu.
“Yes, Sir. Sersan Mike Clark dari Divisi Enam Kompi Senjata Bantuan, pasukan infrantri…” ujar yang seorang.
“Kopral Jock Graham dari Divisi Enam Kompi Senjata Bantuan, bahagian radio…” ujar yang seorang lagi.
“Dan Anda, Tuan?” ujar Letnan Cowie pada si Bungsu.
“Saya orang sipil, nama saya Bungsu….”
Semua mata menatap ke arahnya.
“Maaf, saya sangat yakin Anda bukan mata-mata untuk siapa pun. Namun, sebohong apapun cerita yang akan Anda sampaikan, harap beritahu kami, kenapa Anda sampai ikut ditawan dan disekap bersama kami…” ujar Cowie.
“Anda dari pasukan SEAL?” tanya si Bungsu kepada letnan jangkung itu.
Letnan itu menatap ke arahnya. Begitu juga yang lain.
“Kenapa Anda menebak seperti itu?”

Dalam Neraka Vietnam-bagian-680
negro kribo anggota seal
“Hanya firasat. Saya pernah bertemu beberapa anggota SEAL, dan Anda punya ciri seperti mereka…” ujar si Bungsu perlahan.
Keempat tentara Amerika itu menatap ke arahnya.
“Siapa anggota SEAL yang Anda kenal?” tanya si letnan.
Si Bungsu ganti menatap letnan itu dengan tajam. Dia haqqul yakin, Cowie adalah anggota SEAL yang terkenal itu. Lalu berkata perlahan.
“MacMahon….”
“Kolonel MacMahon?
Si Bungsu mengangguk, letnan tersebut tertegun. Begitu juga yang lain.
“Anda mengenal Kolonel MacMahon…?”
“Ya….”
“Di mana?”
“Di tempat dia disekap bersama tentara Amerika yang lain, di sebuah goa di bukit batu di daerah selatan. Tapi sekarang mereka sudah bebas.…”
“Kolonel MacMahon bebas?”
“Ya….!”
“Pertukaran tawanan perang?”
Si Bungsu menggeleng.
“Melarikan diri?”
Si Bungsu mengangguk.
“Anda ada di sana saat dia melarikan diri…?”
Si Bungsu menarik nafas. Menatap sesaat kepada ke empat tentara Amerika yang tubuh mereka sudah mirip jailangkung karena kurusnya itu.
“Ya… saya di sana.…” jawab si Bungsu perlahan.
Ke empat tawanan kurus seperti jailangkung itu tertegun.
“Anda juga ikut tertawan dengannya?” ujar Letnan Cowie dengan penuh keingintahuan.
“Tidak…”
Untuk sesaat letnan Negro berbibir tebal dan berambut kribo karena tak pernah bertemu tukang pangkas itu menatap si Bungsu. Kemudian dia berkata
perlahan.
“Jika demikian. Anda pastilah salah seorang dari orang-orang yang membebaskan Kolonel MacMahon…” ujar Cowie perlahan.
Jari-jari kaki kiri si Bungsu ganti menggaruk betis kanannya di dalam air yang menjadi gatal pula. Kemudian tangannya menggaruk paha, lalu dada. Lalu
punggung. Sekujur tubuhnya terasa gatal. Si rambut hampir botak tertawa terkekeh melihat si Bungsu menggaruk kiri kanan, atas bawah.
“Anda salah seorang yang membebaskan Kolonel MacMahon?” kembali Letnan Cowie bertanya.
Si Bungsu akhirnya mengangguk perlahan. Kendati ada sedikit kesalahan dalam perkiraan tersebut. Dia bukan ‘salah seorang’ dari yang membebaskan
MacMahon. Dia adalah satu-satunya orang yang membebaskan perwira tersebut bersama belasan yang lain. Tapi tak ada gunanya menjelaskan hal itu dalam
kurungan dengan air berlendir seperti yang mereka huni sekarang.
“Lalu Anda tak berhasil melarikan diri dan tertangkap?” ujar Cowie.
Si Bungsu kembali mengangguk.
“Fuck! Orang ini ternyata bisu. Dia hanya bisa mengangguk dan menggeleng…” Sersan Tim Smith, tentara yang rambutnya hampir botak itu, memaki sambil
terkekeh.
Letnan Cowie menarik nafas panjang, tetapi matanya menatap tajam pada si Bungsu.
“Maaf, tadi Anda mengatakan bukan tentara mana pun. Saya yakin itu. Saya juga yakin Anda bukan mata-mata pihak mana pun. Namun kenapa Anda berada
bersama pasukan yang membebaskan MacMahon? Anda penunjuk jalan bagi pasukan pembebas itu…?” ujar Cowie.
“Tidak, saya datang ke sana karena harus membebaskan seseorang. Kebetulan di tempat dia ditawan ada MacMahon dan tawanan lainnya. Membebaskan
seorang tawanan atau tujuh belas, saya rasa sama saja.…”
“Maksudnya, Anda membebaskan ketujuh belas tawanan itu sendiri?” ujar Cowie.
Tidak hanya Letnan Cowie yang sangat ingin tahu jawaban orang Indonesia ini, tapi juga ketiga tawanan lainnya. Mereka menatap si Bungsu nanap-nanap.
“Tidak, kami berempat….”
“Tiga lainnya adalah pasukan Amerika?”
“Tidak, tiga lainnya adalah orang Vietnam….”
“Tentara semua?”
“Hanya satu. Itu pun bekas tentara. Yang dua lagi penduduk sipil. Yang satu seorang lelaki tua, sekitar 55 tahun. Yang seorang lagi anaknya, seorang gadis
berusia sekitar 15 tahun….”
Terdengar umpat, sumpah dan gerutuan dari si hampir botak dan dua tentara lainnya.
“Siapa yang Anda cari untuk dibebaskan itu?” ujar Cowie.
“Roxy.…”
“Oh Tuhan, Roxy Roger maksud Anda?”
“Ya….”
“Anda dibayar ayahnya untuk mencari dan membebaskan cewek itu?”
“Rencananya ya….”